Apa yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi? Ini prosesnya

1 day ago 7

Jakarta (ANTARA) - Aktivitas gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian dalam beberapa waktu terakhir. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, misalnya, mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 yang menghasilkan lontaran material vulkanik dan abu. Badan Geologi mencatat aktivitas Anak Krakatau kemudian berlanjut dengan erupsi strombolian dan hingga 7 September 2026 statusnya masih berada pada Level III atau Siaga.

Bukan hanya Anak Krakatau. Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), juga tercatat mengalami aktivitas erupsi cukup tinggi. ANTARA melaporkan gunung tersebut mengalami 1.873 kali gempa letusan selama periode 1-5 September 2026.

Fenomena tersebut membuat banyak masyrakat sering melihat gunung api seolah tiba-tiba "meletus". Padahal, sebelum material vulkanik keluar ke permukaan, ada serangkaian proses yang berlangsung di bawah gunung.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi?

1. Magma mulai bergerak naik

Salah satu proses penting menjelang erupsi adalah pergerakan magma dari bagian dalam bumi menuju permukaan.

Magma merupakan batuan cair bersuhu sangat tinggi yang berada di bawah permukaan bumi. Ketika kondisi tertentu terpenuhi, magma dapat bergerak naik melalui rekahan atau saluran di dalam gunung.

Pergerakan ini tidak selalu langsung menghasilkan letusan. Magma bisa tertahan di kantong atau ruang magma terlebih dahulu. Ketika tekanan terus meningkat, magma kemudian mencari jalan menuju permukaan.

Baca juga: Pemprov Lampung: OMC dilakukan urai abu vulkanik dan turunkan hujan

2. Tekanan gas semakin meningkat

Magma tidak hanya berisi material batuan cair. Di dalamnya juga terdapat gas vulkanik yang terlarut, seperti uap air dan karbon dioksida.

Ketika magma bergerak naik, tekanan di sekitarnya semakin rendah. Kondisi tersebut membuat gas yang sebelumnya terlarut dalam magma mulai membentuk gelembung.

Bayangkan seperti Anda sedang membuka botol minuman bersoda. Ketika tekanan berkurang, gas yang sebelumnya berada di dalam cairan lebih mudah keluar dan membentuk gelembung.

Pada magma, proses tersebut dapat meningkatkan tekanan di dalam sistem vulkanik. Jika tekanan cukup besar dan magma memiliki jalan menuju permukaan, terjadilah erupsi.

3. Gempa vulkanik mulai terekam

Pergerakan magma juga dapat menimbulkan perubahan di dalam tubuh gunung. Magma yang bergerak melalui rekahan dapat menghasilkan getaram atau gempa vulkanik.

Karena itu, aktivitas kegempaan menjadi salah satu parameter yang dipantau oleh para ahli vulkanologi.

Pada kasus Gunung Anak Krakatau, misalnya, Badan Geologi mencatat berbagai jenis gempa vulkanik selama periode pengamatan, termasuk gempa erupsi, gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, serta gempa hybrid atau fase banyak. Data tersebut digunakan bersama parameter lain untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung.

Namun, meningkatnya gempa tidak berarti erupsi pasti langsung terjadi. Para ahli melihat perubahan aktivitas secara keseluruhan, bukan hanya satu indikator.

Baca juga: BPBD Lampung: Sebaran abu vulkanik GAK ke arah barat laut

4. Tubuh gunung bisa mengalami perubahan

Naiknya magma juga dapat menyebabkan perubahan bentuk pada bagian tertentu dari gunung.

Ketika magma mengisi atau bergerak di dalam sistem vulkanik, permukaan gunung bisa mengalami penggembungan atau perubahan kemiringan yang sangat kecil. Perubahan tersebut dapat dipantau menggunakan instrumen seperti tiltmeter dan teknologi pemantauan lainnya.

Data deformasi ini kemudian dibandingkan dengan data kegempaan, gas vulkanik, pengamatan visual, dan parameter lainnya.

Dengan menggabungkan berbagai data tersebut, ahli dapat mengetahui apakah aktivitas gunung sedang meningkat, relatif stabil, atau mengalami perubahan tertentu.

5. Suhu dan gas vulkanik juga bisa berubah

Selain gempa dan perubahan bentuk, aktivitas gunung api juga dapat ditandai oleh perubahan gas vulkanik dan suhu di sekitar kawah.

Ketika magma semakin dekat dengan permukaan, gas dari dalam sistem vulkanik dapat keluar melalui kawah atau rekahan. Perubahan komposisi maupun jumlah gas dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai kondisi di bawah permukaan.

Itulah sebabnya pemantauan gunung api tidak hanya dilakukan dengan melihat apakah gunung mengeluarkan asap atau tidak. Ada banyak data yang dikumpulkan secara terus-menerus untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam gunung.

Baca juga: Abu vulkanik bisa bertahan berapa lama setelah erupsi gunung?

Tidak semua tanda berarti gunung akan langsung meletus

Hal penting yang perlu dipahami, gunung api tidak selalu mengikuti pola yang sama.

Peningkatan gempa, keluarnya gas, atau perubahan bentuk gunung memang dapat menjadi tanda adanya perubahan aktivitas. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti erupsi besar akan segera terjadi.

Magma dapat berhenti bergerak, tertahan di bawah permukaan, atau aktivitasnya kembali menurun.

Karena itu, status gunung api ditentukan berdasarkan evaluasi berbagai parameter oleh PVMBG dan Badan Geologi. Masyarakat juga sebaiknya mengikuti rekomendasi resmi, bukan membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan satu tanda yang terlihat.

Mengapa proses ini perlu dipantau?

Indonesia memiliki banyak gunung api aktif karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Aktivitas gunung api menjadi bagian dari dinamika geologi yang terus berlangsung.

Peristiwa erupsi Anak Krakatau dan Ile Lewotolok dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan mengapa pemantauan gunung api penting. Pada Anak Krakatau, misalnya, Badan Geologi terus mengevaluasi aktivitas gunung dan mempertahankan status Level III atau Siaga berdasarkan perkembangan yang diamati.

Jadi, sebelum sebuah gunung api terlihat mengeluarkan abu atau lava, sebenarnya sudah terjadi banyak proses di bawah permukaan. Magma bergerak, tekanan gas berubah, batuan mengalami rekahan, gempa vulkanik muncul, dan sistem gunung dapat mengalami perubahan bentuk.

Semua proses tersebut menjadi bagian dari "cerita" di balik sebuah erupsi. Dengan pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus, perubahan aktivitas gunung dapat dikenali lebih awal sehingga masyarakat di sekitar kawasan rawan bisa mendapatkan informasi dan mengikuti arahan keselamatan dari pihak berwenang, demikian mengutip USGS dan sumber-sumber lain.

Baca juga: Kenapa abu vulkanik bisa menyuburkan tanah? Ini penjelasannya

Baca juga: 11 gunung api di Indonesia yang erupsi sepanjang 2026

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |