Petugas menyiapkan kandang jebak untuk menjebak beruang madu yang menyerang warga di Pelalawan, Riau.(Dok.BBKSDA Riau)
KEMENTERIAN Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan konflik antara satwa liar jenis beruang madu (Helarctos malayanus) dengan seorang warga di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Sesaat setelah menerima laporan, BBKSDA Riau langsung mengerahkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dari Pekanbaru menuju lokasi kejadian pada Rabu (5/8). Tim membawa satu unit kandang jebak (box trap) sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan dalam penanganan konflik satwa liar.
Setibanya di Desa Pangkalan Gondai, Tim langsung berkoordinasi dengan Sekretaris Desa Pangkalan Gondai. Selanjutnya, tim menuju Kantor Desa untuk memperoleh informasi awal serta kronologis kejadian sebagai langkah awal dalam proses penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh pemerintah desa, korban diserang seekor Beruang Madu saat sedang berada di kebun miliknya. Satwa tersebut dilaporkan menyerang korban dari arah belakang. Korban kemudian melakukan perlawanan sehingga beruang melepaskan serangannya dan melarikan diri dari lokasi kejadian.
Meskipun berhasil menyelamatkan diri, korban mengalami luka akibat serangan tersebut. Setibanya di rumah, korban dilaporkan kehilangan banyak darah hingga akhirnya pingsan. Pihak keluarga segera membawa korban ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan penanganan medis.
Saat ini kondisi korban telah berada dalam penanganan tenaga Medis, sementara Tim BBKSDA Riau terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, aparat setempat, serta pihak terkait untuk mengidentifikasi penyebab konflik, dan menentukan langkah-langkah mitigasi guna mencegah terjadinya konflik serupa.
PEMASANGAN KANDANG JEBAK
Sebagai tindak lanjut, pada Kamis (6/8) Tim WRU BBKSDA Riau bersama pemerintah desa dan aparat setempat melakukan pemasangan kandang jebak di sekitar lokasi kejadian.
Langkah ini dilakukan untuk memantau keberadaan satwa sekaligus sebagai upaya mitigasi apabila beruang kembali memasuki kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar.
"Setiap laporan konflik satwa liar kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim WRU ke lapangan. Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat agar langkah mitigasi dapat berjalan secara efektif," kata Supartono, Kamis (6/8).
Beruang madu merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, penanganan konflik dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.
TINGKATKAN KEWASPADAAN
BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun maupun kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar agar meningkatkan kewaspadaan, menghindari bekerja seorang diri, serta segera melaporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman maupun areal perkebunan.
"Kementerian Kehutanan dibawah kepemimpinan Menteri Raja Juli Antoni terus berkomitmen memperkuat upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar melalui penanganan yang cepat, kolaboratif, dan berbasis konservasi, sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia," pungkasnya. (E-2)


















































