China Jengkel, Desak AS dan China Patuh Gencatan Senjata

5 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

China mendesak Amerika Serikat dan Iran "menghormati" gencatan senjata, serta mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk tidak memulai "perang baru".

"China sangat prihatin atas situasi saat ini," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, seperti dikutip Anadolu Agency.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan dari pemerintah China muncul setelah AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm, sebagai "tanggapan terhadap upaya serangan oleh Iran di seluruh Timur Tengah".

Mao menegaskan bahwa "perang baru" tidak menguntungkan siapa pun.

"Kami berharap pihak-pihak terkait dapat menghargai peluang perdamaian, menghormati komitmen gencatan senjata, dan menjaga momentum negosiasi," ujar Mao.

Dia juga menegaskan bahwa semua pihak harus berpegang pada penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik, dan mewujudkan gencatan senjata komprehensif sesegera mungkin.

"Serta menciptakan kondisi yang diperlukan untuk pemulihan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah," imbuhnya.

AS dan Iran kembali terlibat dalam serangan udara, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April. Perang ini pecah setelah AS dan Israel memulai serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.

Sebelumnya Iran mengeklaim berhasil menyerang kapal perang AS yang menjadi pusat kendali dan komando militer pada Rabu (3/6).

Kantor Hubungan Masyarakat (Humas) Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan itu diluncurkan pada Selasa larut malam di dekat Selat Hormuz dengan menggunakan proyektil udara.

Sebagai respons atas agresi dan pelanggaran aturan di Selat Hormuz, sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang ditembakkan oleh Angkatan Laut IRGC," demikian laporan Kantor Humas IRGC, seperti dikutip Tasnim.

Menurut IRGC, AS telah menyerang menara komunikasi IRGC di selatan Pulau Qeshm dengan proyektil udara.

IRGC menegaskan setiap serangan yang diluncurkan terhadap Iran akan dibalas dengan "berbeda dan lebih berat".

"Kami menegaskan kembali bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan membawa konsekuensi berat bagi militer AS yang agresif," demikian pernyataan Kantor Humas IRGC.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |