Dua Nyawa Berkejaran dengan Waktu di Selat Komodo

4 hours ago 5
Dua Nyawa Berkejaran dengan Waktu di Selat Komodo PADAR Heritage Conservation (PHC) kembali menjalankan misi kemanusiaan dengan mengevakuasi seorang ibu hamil asal Pulau Komodo, Dian Lestari, menuju RSUD Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).(MI/Marianus Marselus)

PERJUANGAN Dian Lestari untuk memeluk buah hati pertamanya harus melewati ujian berat di tengah keterbatasan fasilitas medis kepulauan. Setelah berjam-jam menahan kontraksi hebat, harapan ibu muda asal Pulau Komodo ini sempat tertahan oleh kondisi medis yang membahayakan nyawa.

Pembukaan persalinan yang telah lengkap sejak Senin (6/7) pukul 11.30 WITA tidak kunjung berujung pada kelahiran. Tubuhnya mulai kelelahan, tenaga untuk mengejan kian menipis, sementara risiko bagi janin terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Kondisi darurat ini memicu aksi cepat tanggap dari PADAR Heritage Conservation (PHC). Lembaga di bawah naungan Yayasan Artha Graha Peduli tersebut kembali menjalankan misi kemanusiaan dengan mengevakuasi Dian Lestari menuju RSUD Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), guna mendapatkan penanganan medis lanjutan yang mendesak.

Evakuasi ini dilakukan berdasarkan permintaan mendesak dari tenaga kesehatan di Puskesmas Komodo. Pada pukul 15.08 WITA, Humas PHC, Yoanna Daely, menerima laporan darurat dari dr. Andreas yang menangani pasien secara langsung.

Berdasarkan pemeriksaan medis, Dian didiagnosis sebagai primigravida (kehamilan pertama) dengan kondisi kala II persalinan memanjang. Kondisi ini merupakan situasi kritis di mana proses pengeluaran bayi tidak berjalan meski pembukaan sudah lengkap dan kepala janin sudah berada di rongga panggul.

"Pasien telah mengalami pembukaan lengkap sejak pukul 11.30 WITA, namun bayi belum dapat dilahirkan karena ibu mengalami kesulitan mengejan. Kepala janin juga sudah berada di panggul sehingga kondisi ini berisiko apabila penanganan lanjutan tidak segera dilakukan," ujar dr. Andreas dalam laporannya.

Ia menegaskan bahwa keterlambatan penanganan dalam kasus seperti ini dapat memicu komplikasi serius yang mengancam keselamatan jiwa ibu maupun janin yang dikandungnya.

Kronologi Evakuasi Laut

Menyikapi laporan tersebut, PHC segera mengaktifkan prosedur tanggap darurat. Mengingat letak geografis Pulau Komodo yang dipisahkan lautan dari rumah sakit rujukan di Labuan Bajo, kecepatan dan ketepatan armada menjadi kunci utama.

Waktu (WITA) Aksi / Kejadian
15.08 PHC menerima laporan darurat dari dr. Andreas (Puskesmas Komodo).
16.20 Speedboat Seariders berangkat dari Pos Padar Utara menuju Pulau Komodo.
16.50 Tim evakuasi bertolak dari Pulau Komodo menuju Labuan Bajo bersama pasien.
17.59 Armada tiba di pelabuhan Labuan Bajo; pasien dipindahkan ke ambulans.

Setibanya di pelabuhan, Dian Lestari langsung dilarikan menggunakan ambulans menuju RSUD Komodo untuk mendapatkan tindakan obstetri segera dari tim medis spesialis.

Sinergi Lintas Sektor di Wilayah Kepulauan

Humas PHC, Yoanna Daely, menekankan bahwa keberhasilan misi ini bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kesiapan operasional yang matang. "Begitu menerima laporan, tim kami segera melakukan persiapan menyeluruh. Kecepatan memang penting, namun kesiapan personel, armada, dan peralatan menjadi faktor utama agar pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi terbaik," jelasnya.

PHC juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada berbagai pihak yang mendukung kelancaran proses evakuasi ini, di antaranya:

  • KSOP Kelas III Labuan Bajo
  • Polres Manggarai Barat
  • Tenaga Kesehatan Puskesmas Komodo
  • Tim Medis RSUD Komodo

Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani keadaan darurat di wilayah kepulauan. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, dan lembaga swasta seperti PHC di bawah Yayasan Artha Graha Peduli menjadi garda terdepan dalam memastikan layanan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat pelosok secara tepat sasaran.

Catatan Medis: Apa itu Kala II Memanjang?
Kala II memanjang adalah fase persalinan di mana pembukaan sudah lengkap (10 cm) namun bayi tidak lahir dalam jangka waktu yang ditentukan (biasanya lebih dari 2 jam pada kehamilan pertama). Kondisi ini memerlukan intervensi medis segera, seperti penggunaan alat bantu persalinan atau operasi caesar, untuk menghindari asfiksia pada janin dan perdarahan pada ibu. (MM/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |