Pelatihan para perajin kasap Aceh di Gampong Garot Cut, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
DALAM upaya memperkuat daya saing produk warisan budaya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh berkolaborasi dengan Universitas Jabal Ghafur (UNIGHA) Kabupaten Pidie memberikan edukasi pemanfaatan teknologi digital bagi perajin sulaman kasap Aceh. Kegiatan ini difokuskan pada pengembangan narasi digital tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal.
Pelatihan metode dan manajemen bisnis berbasis teknologi tersebut diikuti oleh puluhan perajin sulaman kasap di Gampong Garot Cut, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie. Melalui program ini, para perajin mendapatkan pendampingan penerapan Strategi Pemasaran 4.0 dengan memanfaatkan digital storytelling sebagai media promosi utama.
Ketua Pelaksana, Cut Yusnidar, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Pendanaan 2026. Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
"Pengabdian ini mengangkat tema 'Strategi Pemasaran 4.0 Produk KASAPAURA GOLD melalui Digital Storytelling Berbasis Budaya Aceh'. Kolaborasi seni, budaya, dan ekonomi ini bertujuan memperkuat daya saing produk agar mampu bersaing di era informasi teknologi," ujar Cut Yusnidar kepada Media Indonesia di sela-sela pelatihan, Senin (21/7).
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian terdiri dari Fentisari Desti Sucipto (ISBI Aceh), Cut Yusnidar, dan Ismayli dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIGHA. Mereka mendorong para perajin untuk mengemas narasi budaya--mulai dari sejarah, filosofi motif, hingga proses kreatif--ke dalam bentuk foto, video, dan konten media sosial.
Ketua Pelaksana lain, Ismayli, menambahkan bahwa digital storytelling menjadi strategi efektif untuk meningkatkan nilai tambah dan citra produk budaya. "Pelatihan ini meningkatkan kemampuan UMKM dalam pemasaran digital, branding, dan pengelolaan konten kreatif," tuturnya.
Sementara itu, Fentisari Desti Sucipto menekankan bahwa inovasi digital yang dilakukan harus tetap menjaga keaslian nilai artistik dan warisan budaya Aceh. Melalui kolaborasi ini, produk KASAPAURA GOLD diharapkan menjadi ikon ekonomi kreatif yang mampu menembus pasar nasional maupun internasional.
Tim pelaksana turut menyampaikan apresiasi kepada kementerian terkait atas dukungan pendanaan PISN 2026. Program ini diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan bagi pelestarian budaya sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pidie. (I-2)

















































