Edwin Bawa Nuansa Horor Berbeda di Monster Pabrik Rambut

1 hour ago 3

INDUSTRI sinema horor Indonesia sering kali terjebak dalam pakem supranatural yang mengandalkan kemunculan sosok hantu. Namun, sutradara Edwin yang dikenal lewat pendekatan visualnya yang tajam, mencoba mendobrak batasan tersebut melalui film terbarunya, Monster Pabrik Rambut.

Film yang dijadwalkan tayang pada Kamis, 4 Juni 2026 ini tidak hanya menjanjikan ketegangan, tetapi juga sebuah eksperimen teknis dan kritik tajam terhadap kenyataan dunia kerja.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pilihan Editor: Film Horor Edwin dalam Produksi Lima Negara

Horor di Balik Target dan Deadline

Lahir dari diskusi panjang bersama penulis Eka Kurniawan, ide Monster Pabrik Rambut bermula dari kegelisahan tentang kehidupan sehari-hari. Edwin dan Eka sepakat bahwa horor tidak selalu datang dari alam gaib, melainkan bisa muncul dari tekanan sistemik yang dialami manusia modern.

"Kami mendalami, masa sih kita enggak bisa bikin horor yang enggak ada parameter sama setan?" ungkap Edwin kepada Tempo, Kamis, 7 Mei 2026.

Baginya, koleksi hantu di Indonesia memang kaya, namun ada kengerian lain yang lebih dekat budaya kerja yang eksploitatif. Obsesi terhadap target dan lembur yang merampas waktu tidur manusia dianggap sebagai bentuk teror yang paling nyata. Dalam film ini, pabrik bukan sekedar latar, melainkan sebuah “monster” kapitalisme yang perlahan menggerogoti kewarasan para pekerjanya.

Transformasi PFN Jadi Ruang Kerja Mencekam

Untuk menghidupkan atmosfer tersebut, tim produksi melakukan penelitian mendalam ke pabrik rambut dan prostetik asli di Bali. Namun, untuk kebutuhan syuting, mereka memilih untuk membangun lokasi di Studio Perusahaan Film Negara (PFN), Jakarta. Gedung PFN yang bersejarah dengan atap tinggi dan lorong-lorong tua memberikan kesan industrial yang autentik.

Menariknya, properti yang digunakan bukan sekadar replika. Edwin memboyong mesin jahit, sisir besi raksasa, hingga ribuan helai rambut asli dari pabrik di Bali. Kehadiran benda-benda asli ini memberikan dampak psikologis yang kuat bagi para pemain.

Aktor Iqbaal Ramadhan ketika melakukan kunjungan promosi film terbaru mereka, Monster Pabrik Rambut, ke kantor Tempo, Jakarta, 7 Mei 2026. Tempo/Fardi Bestari

Iqbaal Ramadhan, salah satu pemeran utama, menceritakan betapa set tersebut sangat mempengaruhi kinerja mereka. “Pabriknya itu sampai ke baunya pun nyata. Ada bau kimia dari cairan resin dan silikon untuk pembuatan prostetik. Kalau salah pegang, tangan bisa panas dan gatal,” ujar Iqbaal. Baginya, detail-detail praktis seperti ini memudahkan aktor untuk merespons situasi tanpa perlu bersusah payah berimajinasi di depan layar kosong.

Melawan Dominasi CGI dengan Efek Praktis

Di tengah gempuran teknologi CGI, Edwin memilih jalan anarkis dengan kembali ke practice effect. Keputusan ini didasari oleh kecintaannya pada film-film aksi dan horor tahun 80-an, seperti karya-karya yang dibintangi Barry Prima atau Advent Bangun. Edwin menilai, efek fisik memiliki kejujuran yang tidak bisa digantikan oleh piksel digital.

"Ketika memakai CGI atau green screen, susah buat aktor untuk menakar reaksi mereka karena barangnya tidak ada. Dengan practice effect, teriakan dan gestur aktor itu lebih organik karena monsternya benar-benar hidup sebagai karakter di depan mata mereka," tutur Edwin. Ia ingin penonton merasakan tekstur yang kasar dan nyata, sebuah estetika yang disebutnya sebagai "horor jadul yang disempurnakan."

Selain itu, film ini juga menggunakan teknik Digital Film Data (DFD), yang dikerjakan melalui kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Prancis. Monster Pabrik Rambut menjadi film Indonesia pertama yang menerapkan proses ini secara penuh. Secara teknis, film ini tetap direkam menggunakan kamera digital untuk efisiensi produksi. Hasilnya adalah visual dengan tekstur grain dan kedalaman warna yang identik dengan film seluloid klasik.

Totalitas Pemain

Kekuatan film ini juga bertumpu pada jajaran pemain, mulai dari Rachel Amanda, Lutesha, Sal Priadi, Iqbaal Ramadhan, Luqman Hakim (Kev), hingga maestro tari Didik Nini Thowok . Setiap pemain menjalani workshop intensif untuk mendalami peran sebagai buruh pabrik. Lutesha, misalnya, harus belajar teknik menyulam rambut satu per satu hingga postur tubuh secara alami berubah menjadi membungkuk sebuah detail fisik yang menunjukkan beban kerja karakternya.

Monster Pabrik Rambut dihadirkan sebagai surat cinta bagi sinema klasik sekaligus eksperimen teknologi. Film ini juga menjadi cermin bagi masyarakat tentang betapa mengerikannya ketika manusia mulai kehilangan kemanusiaannya di bawah tekanan mesin dan melampaui waktu.

ANDARA ANGESTI

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |