Industri Fesyen Kriya Sumbang Rp 120,13 Triliun PDB

4 hours ago 2

MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pada triwulan I 2026, industri fesyen dan kriya tercatat menyumbang nilai tambah ekonomi produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 120,13 triliun. Sektor ini juga mengalami peningkatan investasi yang signifikan.

Pernyataan tersebut diungkap Agus saat peresmian Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, Jumat, 8 Mei 2026. “Industri fesyen dan kriya memiliki peran penting dalam upaya mendukung perekonomian nasional. Pada triwulan I tahun 2026, PDB industri fesyen dan kriya tercatat sebesar Rp 120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan triwulan I tahun 2025 yang sebesar Rp 111,34 triliun,” ucapnya.

Pertumbuhan industri ini pada 2025 mencapai 4,93 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2024 yang sebesar 2,43 persen. Investasi sektor fesyen dan kriya juga meningkat. Pada triwulan pertama 2026, investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di sektor tersebut mencapai Rp 4,83 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp 9,38 triliun. Sehingga total investasi menembus Rp 14,21 triliun.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Agus, kinerja positif juga tercermin dari capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional pada awal tahun ini. Di periode Januari-Februari 2026, nilai ekspor industri fesyen pakaian jadi tercatat mencapai US$ 1,44 miliar, industri tekstil sebesar US$ 0,52 miliar, dan industri kriya mencapai US$ 2,43 miliar.

“Capaian ini menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya nasional masih memiliki daya saing yang kuat di tengah dinamika pasar global,” kata dia.

Sektor industri kecil dan menengah (IKM) fesyen dan kriya juga berperan bagi pemerataan industri dan penyerapan tenaga kerja nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah unit usaha industri fesyen dan kriya pada skala IKM mencapai 1,75 juta unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 3,69 juta orang.

Agus menyampaikan bahwa potensi besar sektor tersebut turut didukung oleh ekosistem industri yang kuat. Tercermin dari keberadaan 1.825 sentra IKM fesyen dan 3.496 sentra IKM kriya di berbagai daerah di Indonesia berdasarkan data tahun 2025 yang diolah Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian.

Adapun BPIFK merupakan satuan kerja di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) yang resmi dibentuk pada tahun 2024, dengan cikal bakal program pemberdayaan industri kreatif yang telah dimulai sejak tahun 2015 melalui Bali Creative Industry Center (BCIC). Agus menyatakan pemilihan Bali sebagai lokasi pendirian BPIFK berdasarkan potensi dan ekosistem industri kreatif yang kuat di lokasi ini. Bali memiliki 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya, sehingga menempatkan provinsi tersebut sebagai salah satu pusat industri kreatif terbesar di Indonesia.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |