Pakar nilai proteksionisme menguat, ASEM fokus ke pembangunan domestik

11 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai proteksionisme kini menjadi kecenderungan yang kian lumrah di tengah krisis energi global, sehingga mendorong negara-negara dalam forum Asia-Europe Meeting (ASEM) untuk memprioritaskan pembangunan domestik.

"Proteksionisme sangat lumrah dipraktikkan saat ini, di mana kelangkaan energi dan tingginya potensi perang regional di Timur Tengah, memaksa negara di lingkungan ASEM akan memprioritaskan pembangunan mereka masing-masing," kata Rezasyah, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Ahad.

Ia memperkirakan Uni Eropa secara kolektif akan bertransformasi dari pasar bebas menjadi lebih tertutup seiring meningkatnya penetrasi global China di sektor perdagangan, investasi, perbankan, dan teknologi.

"Namun, proteksionisme berisiko disalahartikan sebagai ancaman terhadap pembangunan ekonomi negara lain, sehingga dapat memperburuk kepercayaan antaranggota ASEM," katanya.

Rezasyah menilai diperlukan norma bersama yang menegaskan bahwa proteksionisme dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu, seperti untuk menjaga ketahanan nasional, keamanan pangan dan energi, serta stabilitas pemerintahan.

Ia juga menyoroti pentingnya respons negara-negara Asia, termasuk Indonesia, terhadap penerapan standar hijau dari Eropa yang kerap menjadi tantangan dalam perdagangan.

"Diperlukan pelatihan yang mendalam agar para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan di negara-negara Asia memahami posisi Uni Eropa yang sangat konsisten menerapkan pembangunan berkelanjutan yang berbasis lingkungan hidup," katanya.

Selain itu, ia menilai negara-negara Asia perlu menarik perhatian negara-negara Eropa yang memiliki komitmen kuat terhadap pengelolaan lingkungan hidup, mengingat adanya alokasi anggaran yang telah diprogramkan untuk mendukung negara berkembang dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) sebelum 2030.

Fokus utama diarahkan pada SDG Nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim (Climate Action), SDG Nomor 7 tentang energi bersih dan terjangkau (Affordable and Clean Energy), serta SDG Nomor 6 mengenai air bersih dan sanitasi (Clean Water and Sanitation).

ASEM (Asia-Europe Meeting) adalah forum dialog dan kerja sama informal antarpemerintah untuk memperkuat hubungan Asia dan Eropa. Forum ini menyatukan 53 mitra -termasuk negara-negara Eropa, anggota ASEAN, dan negara lain di Asia - untuk membahas isu politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

ASEM yang didirikan di Bangkok, Thailand pada Maret 1996, memiliki tujuan utama untuk meningkatkan pengertian bersama, perdamaian, dan kesejahteraan antara dua benua melalui kerja sama yang sejajar dan terbuka. ​​​​​​​

ASEM didorong oleh kebutuhan untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik antarkawasan melalui tiga pilar kerja sama yakni ​​​​​​​dialog mengenai stabilitas dan keamanan untuk bidang politik, kerja sama perdagangan, investasi, dan infrastruktur untuk bidang ekonomi dan pertukaran pendidikan, budaya, dan hubungan antar masyarakat untuk bidang sosial, budaya dan intelektual.

Baca juga: Pakar nilai RI harus jadi penggerak agenda kerja sama Asia-Eropa

Baca juga: Indonesia ingin perbanyak "people-to-people exchange" Asia dan Eropa

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |