Kenapa abu vulkanik bisa menyuburkan tanah? Ini penjelasannya

1 day ago 8

Jakarta (ANTARA) - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi perhatian dalam beberapa hari terakhir setelah abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut abu vulkanik terpantau menyebar ke lima provinsi, yakni Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Sebaran abu tersebut juga berdampak pada aktivitas penerbangan hingga sekolah di sejumlah daerah.

Episode erupsi menerus Anak Krakatau yang berlangsung sekitar 25 jam memang telah berakhir pada Minggu (6/9), tetapi aktivitas vulkaniknya masih dipantau. Setelah erupsi menerus berakhir, gunung tersebut masih mengalami erupsi strombolian yang menghasilkan abu vulkanik.

Di tengah dampak abu yang bisa mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari, ada satu hal menarik tentang material vulkanik. Dalam jangka panjang, abu vulkanik ternyata dapat berperan dalam pembentukan tanah yang subur.

Lantas, bagaimana material yang awalnya mengganggu justru bisa membantu menyuburkan tanah?

Abu vulkanik bukanlah sekadar debu biasa. Material ini berasal dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar ketika gunung mengalami erupsi.

Komposisinya bisa berbeda-beda, tergantung jenis gunung dan magma yang keluar. Namun, beberapa jenis abu vulkanik dapat membawa unsur mineral seperti magnesium, kalsium, sulfur, kalium, dan unsur lainnya yang dibutuhkan tanaman. US Geological Survey (USGS) mencatat abu vulkanik tertentu, terutama yang berasal dari material basaltik dan andesitik, dapat menyumbangkan sejumlah unsur hara bagi tanah.

Ketika material tersebut mengalami pelapukan dan bercampur dengan tanah, sebagian unsur mineralnya dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Abu vulkanik yang baru saja jatuh sebenarnya belum tentu langsung membuat tanah menjadi subur.

Prosesnya membutuhkan waktu. Air hujan, suhu, aktivitas mikroorganisme, serta proses kimia di dalam tanah secara perlahan membantu memecah mineral yang terdapat dalam material vulkanik.

Baca juga: Lima langkah aman berkendara saat terpapar abu vulkanik

Dalam proses tersebut, unsur-unsur tertentu dapat dilepaskan dan kemudian tersedia bagi tanaman.

Penelitian mengenai tanah yang terbentuk dari abu vulkanik di Indonesia juga menunjukkan bahwa material vulkanik berperan penting dalam perkembangan dan karakteristik tanah. Namun, tingkat kesuburannya tetap bergantung pada komposisi abu dan proses pembentukan tanah yang berlangsung setelahnya.

Selain menyediakan mineral, abu vulkanik juga dapat memengaruhi sifat fisik tanah.

Jika jumlahnya sesuai dan bercampur dengan tanah, material abu dapat membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air. USGS menyebut endapan abu tertentu dapat memberikan efek seperti mulsa sehingga mengurangi kehilangan air akibat penguapan. Material berukuran lebih kasar juga dapat membantu aerasi dan drainase tanah.

Kondisi tersebut dapat memberikan lingkungan yang lebih mendukung bagi pertumbuhan tanaman.

Namun, bukan berarti semakin banyak abu yang menutupi tanah maka semakin subur pula lahan tersebut.

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Abu vulkanik memang dapat membantu kesuburan tanah dalam jangka panjang, tetapi endapan dalam jumlah besar justru bisa merusak tanaman. Abu yang terlalu tebal dapat menimbun tanaman, mengganggu proses fotosintesis, menghambat pertukaran udara di dalam tanah, hingga membuat akar kesulitan mendapatkan oksigen.

Komposisi kimia abu juga perlu diperhatikan. Beberapa jenis abu dapat meningkatkan keasaman tanah atau mengubah keseimbangan unsur hara. Artinya, efek abu vulkanik tidak selalu positif dan tidak bisa disamaratakan untuk semua wilayah.

Baca juga: BPBD Lampung: Sebaran abu vulkanik GAK ke arah barat laut

Mengapa tanah di sekitar gunung api sering subur?

Tanah vulkanik yang subur pada dasarnya merupakan hasil proses panjang.

Setelah material erupsi mengendap, batuan dan mineral di dalamnya mengalami pelapukan. Material tersebut kemudian bercampur dengan bahan organik dari tumbuhan dan organisme yang hidup di permukaan tanah.

Dalam waktu yang panjang, proses tersebut menghasilkan tanah dengan karakteristik yang mendukung pertumbuhan tanaman.

USGS menyebut proses pelapukan dan erosi material vulkanik selama waktu geologis turut berperan dalam pembentukan tanah yang subur.

Hal inilah yang membuat sejumlah kawasan vulkanik di Indonesia dikenal memiliki lahan pertanian yang produktif.

Meski mengandung mineral, abu vulkanik tidak bisa dianggap sebagai pupuk instan yang langsung membuat tanaman tumbuh subur setelah erupsi.

Tanaman tetap membutuhkan unsur hara dalam komposisi yang seimbang, termasuk nitrogen. Dalam beberapa penelitian terhadap permukaan yang baru tertutup material vulkanik, unsur nitrogen justru dapat menjadi salah satu faktor yang membatasi pertumbuhan awal tanaman. Kesuburan kemudian meningkat seiring masuknya bahan organik dan aktivitas organisme ke dalam ekosistem.

Jadi, prosesnya lebih tepat disebut pembentukan dan perbaikan tanah secara bertahap, bukan abu vulkanik langsung berubah menjadi pupuk.

Baca juga: Abu vulkanik bisa bertahan berapa lama setelah erupsi gunung?

Baca juga: Abu vulkanik masuk rumah? Ini 7 cara membersihkannya

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |