KOMANDO Daerah Militer XVII/Cenderawasih mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Papua untuk tetap selektif dalam mengkonsumsi maupun memahami diskursus yang berkembang saat ini. Salah satunya mengenai film Pesta Babi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Tri Purwanto mengatakan, penyebaran narasi visual yang bersifat tendensius tanpa adanya uji sensor dalam film dokumenter Pesta Babi berisiko membenturkan masyarakat dengan proyek strategis nasional pemerintahan.
"Film ini berpotensi memicu kesalahpahaman dan mengganggu keharmonisan sosial masyarakat," kata Tri melalui pesan WhatsApp pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Dia menuturkan, situasi keamanan dan stabilitas sosial, khususnya di wilayah Papua harus tetap dijaga, mengingat terus berjalannya proyek pembangunan di Bumi Cenderawasih.
Menurut Tri, proyek pembangunan tersebut sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, sehingga penting bagi masyarakat untuk lebih selektif terhadap narasi dan diskursus yang berkembang.
TNI Angkatan Darat melalui Kodam XVII/Cenderawasih, kata dia, akan terus melakukan pemantauan situasi guna memastikan ketertiban umum tetap terjaga.
Tri menambahkan, dalam upaya menjaga ketertiban umum ini, TNI juga akan melibatkan unsur lain mulai dari tokoh masyarakat; tokoh agama; adat; pemuda; serta unsur-unsur masyarakat Papua lainnya.
"Kami mengimbau agar ruang-ruang diskusi dialihkan pada forum yang lebih edukatif, legal, dan konstruktif," ujar dia.
Film dokumenter Pesta Babi yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale menggambarkan dampak ekspansi lahan dan industri terhadap hilangnya hutan adat, pangan tradisional, serta kedaulatan warga lokal di Papua.
Film berdurasi sekitar 90 menit ini menyoroti perjuangan masyarakat adat di Papua seperti di Merauke, Boven Digoel, maupun Mappi melawan ekspansi dan keterlibatan militer dalam proyek strategis nasional (PSN).
Sebelumnya, kegiatan nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi di sejumlah wilayah diwarnai aksi pembubaran, baik oleh militer maupun rektorat kampus. Di Ternate, kegiatan ini dibubarkan prajurit Kodim 1501/Ternate dengan alasan provokatif maupun inkondusifitas.
Di Nusa Tenggara Barat, tiga perguran tinggi seperti Universitas Mataram; Universitas Mandalika; dan Universitas Islam Negeri Mataram melarang pemutaran film ini. Alasannya, film dinilai mendiskreditkan pemerintah Indonesia.
Kendati begitu, di Universitas Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat, kegiatan nonton bareng film Pesta Babi justru berlangsung khidmat. Rektor mempersilakan mahasiswa menonton dengan pertimbangan kebebasan bereskpresi tak boleh dikekang.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485282/original/038819000_1769501489-pikojerico-175__1_.jpg.jpeg)



