Memahami Beauty Standard: Sejarah, Dampak, dan Tren Inklusivitas

3 hours ago 1

CANTIKA.COM, Jakarta - Istilah beauty standard atau standar kecantikan sering banget kita dengar, apalagi di era digital yang dipenuhi filter dan konten visual. 

Tapi, pernah nggak sih kamu benar-benar memahami apa itu beauty standard, bagaimana terbentuknya, dan kenapa dampaknya bisa begitu besar terhadap citra tubuh dan kesehatan mental?

Dalam artikel ini akan membahas secara lengkap mulai dari definisi, sejarah, hingga bagaimana pengaruh media sosial membentuk standar kecantikan Indonesia saat ini dan cara menyikapinya dengan lebih sehat.

Apa Itu Beauty Standard?

Secara sederhana, beauty standard adalah seperangkat kriteria atau gambaran ideal tentang bagaimana seseorang “seharusnya” terlihat agar dianggap menarik secara fisik oleh masyarakat. Standar ini bisa mencakup warna kulit, bentuk tubuh, fitur wajah, hingga gaya berpakaian.

Konsep ini sangat berkaitan dengan citra tubuh, yaitu bagaimana seseorang memandang dan menilai tubuhnya sendiri. Dalam psikologi, citra tubuh mencakup persepsi, pikiran, dan perasaan terhadap penampilan fisik.

Masalahnya, standar kecantikan sering kali tidak realistis. Apalagi di era digital, di mana banyak gambar telah diedit atau difilter sehingga menciptakan ekspektasi yang sulit dicapai.

Di konteks lokal, indonesia beauty standard atau standar kecantikan Indonesia sering dikaitkan dengan kulit cerah, tubuh langsing, dan fitur wajah tertentu. Namun, standar ini sebenarnya terus berubah dan tidak bisa disamaratakan.

Sejarah dan Evolusi Standar Kecantikan dari Berbagai Era

Standar kecantikan bukan sesuatu yang tetap dan akan selalu berubah mengikuti budaya, zaman, dan nilai sosial.

Pada era klasik seperti Yunani kuno, kecantikan identik dengan proporsi tubuh yang simetris dan harmonis. Sementara di era Renaissance, tubuh berisi justru dianggap ideal karena melambangkan kemakmuran.

Memasuki abad ke-20, standar kecantikan bergeser drastis. Tubuh kurus mulai dianggap ideal, terutama di industri fashion dan media. Hingga akhirnya, di era digital sekarang, standar kecantikan semakin kompleks, bahkan cenderung kontradiktif.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa standar kecantikan sangat dipengaruhi oleh budaya dan media, sehingga bisa berbeda di setiap negara. Setiap budaya memiliki nilai, sejarah, dan preferensi estetika yang berbeda. Faktor seperti kolonialisme, globalisasi, hingga tren media global juga ikut memengaruhi standar kecantikan di suatu negara.

Di Indonesia sendiri, standar cantik Indonesia sering dipengaruhi oleh perpaduan budaya lokal dan global. Beberapa tren kecantikan seperti K-beauty, Western beauty, hingga nilai tradisional juga turut membentuk standar kecantikan di Indonesia.

Namun, di lain sisi, Indonesia dikenal sebagai negara multikultural dengan berbagai tipe ras, warna kulit, hingga bentuk tubuh, meski standar kecantikan di Indonesia secara tradisional masih menekankan pada kulit putih atau cerah, tubuh langsing, rambut lurus, dan wajah mulus.

Kenyataannya, kulit sawo matang juga jadi warna alami kebanyakan orang Indonesia, pengaruh media dan budaya sering mendorong standar kulit cerah, yang memicu popularitas produk pemutih. 

Kabar baiknya, tren mulai bergeser ke arah keberagaman, meski anggapan lama masih kuat.

Dampak Psikologis Standar Kecantikan terhadap Kepercayaan Diri

Di balik tampilannya yang “ideal”, standar kecantikan menyimpan dampak serius, terutama bagi kesehatan mental.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan standar kecantikan yang tidak realistis dapat menyebabkan rendahnya kepercayaan diri, muncul kecemasan dan depresi sampai terjadi gangguan makan. Efek yang tak kalah parah juga membuat adanya ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri.

Hal ini terjadi karena individu terus membandingkan dirinya dengan gambaran ideal yang sering kali tidak nyata.

Selain itu, pengaruh media sosial memperparah kondisi ini. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi visual yang telah dikurasi dan diedit, sehingga memperkuat standar kecantikan yang sempit.

Dampaknya tidak hanya pada penampilan, tetapi juga buruk pada kesehatan mental dan kualitas hidup. Banyak orang merasa “tidak cukup baik”, padahal masalahnya tidak ada pada diri mereka, tetapi berasal dari standar yang tidak realistis.

Mengenal Gerakan Body Positivity dan Self-Acceptance

Sebagai respons terhadap tekanan standar kecantikan, muncul gerakan body positivity dan self-acceptance yang kini semakin populer.

Gerakan ini mendorong adanya penerimaan diri apa adanya, lebih menghargai keberagaman bentuk tubuh dan juga mendorong inklusivitas dalam definisi cantik

Menariknya, meskipun media sering memperkuat standar kecantikan, platform digital juga menjadi ruang bagi gerakan ini untuk berkembang. Kampanye body positivity terbukti membantu meningkatkan persepsi diri dan ketahanan psikologis.

Konsep ini juga erat kaitannya dengan inklusi atau inklusivitas dan kecantikan tidak hanya milik satu tipe tubuh, warna kulit, atau fitur tertentu.

Jadi, Harus Gimana Menyikapi Beauty Standard?

Tidak realistis untuk sepenuhnya “menghindari” standar kecantikan, karena kita hidup di dalamnya. Tapi kita bisa memilih bagaimana meresponnya.

Mulai dari hal kecil seperti mengkurasi konten media sosial, lebih menghargai tubuh sendiri dengan tidak membandingkan diri secara berlebihan. Tentu, yang terpenting fokus juga pada kesehatan, bukan sekadar penampilan semata.

Pada akhirnya, standar kecantikan akan terus berubah. Tapi yang seharusnya tetap adalah bagaimana kita memandang diri sendiri.  Cantik itu bukan soal memenuhi standar, tapi tentang menerima diri dengan utuh dan tetap menyayangi diri sendiri. 

Jadi, sudahkah kamu menyayangi diri kamu sendiri tanpa terkekang standar kecantikan?

Pilihan Editor: Zhang Miaoyi: Profil, Drama, dan Fakta Aktris China yang Viral

PMC | SCIENCE DIRECT | E-JOURNAL UNDIP

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |