Menhan Singapura: pemulihan relasi dengan RI jadi contoh keberhasilan

3 hours ago 1

Beijing (ANTARA) - Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing menyebut keberhasilan negaranya mengatasi masalah dengan Indonesia menjadi contoh cara diplomatik dalam mengatasi masalah geopolitik antarnegara.

"Seperti negara-negara lainnya, kami memiliki sejumlah persoalan historis dengan negara-negara tetangga. Namun, kami bekerja sama dengan mereka untuk menyelesaikan persoalan itu secara harmonis demi kepentingan nasional dan regional, sebagai contoh, kami berhasil mencapai penyelesaian diplomatik dengan Indonesia meskipun hubungan keduanya menghadapi berbagai tantangan pada tahun-tahun awal berdirinya Singapura," kata Chan Chun Sing di Beijing, Rabu.

Menhan Chan menyampaikan hal tersebut dalam sesi pleno pertama Beijing Xiangshang Forum dengan "Membangun Konsensus tentang Stabilitas, Memajukan Tata Kelola Keamanan Bersama".

Forum yang sudah berlangsung sebanyak 13 kali tersebut mempertemukan ratusan perwira militer, diplomat, dan akademisi dari negara-negara Asia, Eropa hingga Timur Tengah untuk membahas mengenai keamanan dan tatanan internasional.

"Perubahan geopolitik, disertai upaya diplomatik kami, pada akhirnya menciptakan ruang bagi Singapura untuk berkembang dan mencapai kemakmuran," ungkap Menhan Chan.

Ia pun menyampaikan tiga prinsip dasar yang perlu diingat dalam menghadapi masa yang penuh ketidakpastian ini.

Pertama, stabilitas dalam negeri dan keamanan eksternal saling berhubungan dan bila kondisi di dalam negeri baik maka akan memperkuat hubungan luar negeri.

"Kepercayaan diri di dalam negeri memungkinkan suatu negara bekerja sama dengan para mitra dan bertindak sesuai kepentingan jangka panjangnya secara bijaksana di kancah internasional. Sebaliknya, lingkungan eksternal yang kondusif turut memengaruhi stabilitas dalam negeri," kata Menhan Chan.

Pengalaman Singapura, menurut dia, menggambarkan hal tersebut. Ketika negaranya berdiri pada 1965, Singapura lahir di tengah krisis seperti ketegangan etnis, tantangan keamanan, kesulitan ekonomi maupun Perang Dingin.

"Sangatlah penting bahwa para pemimpin pendiri kami berhasil mewujudkan stabilitas politik dalam negeri sejak tahap awal. Mereka mengambil langkah-langkah mendesak dan tegas untuk merestrukturisasi perekonomian, memenuhi kebutuhan rakyat, serta memperoleh kepercayaan mereka," ungkap Menhan Chan.

Prinsip kedua adalah bahwa saling ketergantungan menciptakan stabilitas.

"Dalam situasi saat ini, kita mungkin tergoda memandang saling ketergantungan sebagai sumber kerentanan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, saling ketergantungan memperluas kepentingan bersama antarnegara," ungkap dia.

Menhan Chan menyebut saling ketergantungan menciptakan insentif untuk bekerja sama atau setidaknya bersaing berdasarkan seperangkat aturan yang telah disepakati.

"Saya perlu menegaskan bahwa kompetisi dan rivalitas tidak berarti kita harus menjadi musuh. Jika dikelola dengan baik, kompetisi dan rivalitas dapat mendorong kita semua untuk menjadi lebih baik. Itulah sebabnya, sejak masa-masa awal, Singapura berupaya membangun lingkungan eksternal yang terbuka dan inklusif seperti bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk membangun ASEAN hingga memainkan peran konstruktif dalam pengembangan hukum laut internasional," jelas dia.

Atas alasan yang sama, Singapura pun terus menyerukan pemeliharaan tatanan internasional berbasis aturan, yang menjadi fondasi perdagangan dan pertukaran global.

"Sebagai contoh, Singapura secara konsisten mendukung hak lintas bagi kapal-kapal yang melewati selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, seperti Selat Hormuz," kata dia.

Prinsip ketiga adalah kaidah yang sangat dikenal dalam etika kedokteran, pertama-tama, jangan menimbulkan kerugian, sekalipun kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan.

"Untuk membangun kepercayaan, kita terlebih dahulu harus memastikan bahwa kita tidak merusaknya. Kepercayaan sangatlah penting, tetapi juga rapuh. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi, tetapi dapat hilang dalam sekejap," ungkap Menhan Chan.

Ketika terdapat kepercayaan, Menhan Chan menyebut, suatu negara dapat menyelesaikan persoalan-persoalan sulit secara tenang di balik layar.

"Seperti ungkapan dalam bahasa Mandarin, 'Persoalan besar diperkecil dan persoalan kecil diselesaikan'. Tanpa kepercayaan, kesalahpahaman kecil dapat dengan cepat membesar. Hal tersebut dapat terjadi dalam ranah fisik, khususnya di lingkungan yang diperebutkan," tambah Menhan Chan.

Persoalan ini bahkan lebih penting, menurut Menhan Chan, juga hadir dalam ranah yang tidak kasatmata, seperti ruang siber, tempat maksud suatu tindakan sering kali tidak jelas dan pelakunya tidak mudah diidentifikasi.

"Izinkan saya merangkum ketiga prinsip dasar tersebut. Kepercayaan diri dan stabilitas di dalam negeri memungkinkan kita bekerja sama di tingkat eksternal, saling ketergantungan memberikan peluang yang lebih besar untuk membangun sistem internasional yang kuat dan bekerja sama, sementara itu, kepercayaan memungkinkan kerja sama tersebut terwujud," kata Menhan Chan.

Untuk mewujudkan ketiganya, Menhan Chan juga memberikan tiga usulan yaitu pertama negara besar menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar sehingga negara kecil akan memiliki rasa khawatir yang lebih sedikit.

Kedua, kita membangun kepercayaan melalui kesabaran strategis yaitu dengan tidak mengejar kemenangan jangka pendek dengan mengorbankan keuntungan jangka panjang.

"Tidak setiap kemampuan harus dipamerkan. Tidak setiap keunggulan harus segera dimanfaatkan dan tidak setiap provokasi menuntut tanggapan seketika," kata Menhan Chan.

Ketiga, negara-negara harus terus mencari cara-cara konkret untuk menciptakan nilai secara bersama-sama dengan menemukan titik-titik persinggungan dan membangun kerja sama nyata dalam ruang kepentingan bersama itu.

"Sejak awal, kami telah mendukung kebijakan reformasi dan keterbukaan China, jauh sebelum China menjadi anggota WTO dan menjelang peringatan seratus tahun berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat China, terdapat potensi besar bagi militer China untuk memberikan kontribusi positif bagi stabilitas dan keamanan global," ungkap Menhan Chan.

Sedangkan Wakil Direktur Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Strategi, Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis Letnan Jenderal Sebastien Vallette mengatakan Prancis tetap berkomitmen penuh terhadap Piagam PBB, hukum internasional, multilateralisme, dan kerja sama, yang merupakan satu-satunya jalan berkelanjutan untuk melangkah maju.

"Namun, kami juga sangat menyadari berbagai ancaman dan tantangan yang terdapat di sepanjang jalan tersebut. Tatanan internasional yang kita warisi dari Perang Dunia II telah dan tetap berlandaskan seperangkat aturan dan prinsip, Saat ini, tatanan tersebut sedang terancam," kata Vallette.

Sedangkan sejumlah menteri pertahanan dan pejabat tinggi bidang keamanan lain yang ikut menyampaikan pandangan adalah Menteri Pertahanan Vietnam Phan Van Giang, Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, Menteri Pertahanan Thailand Adul Boonthumjaroen, Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha, Menteri Pertahanan Belarusia Victor Khrenin, Wakil Direktur, Direktorat Jenderal Hubungan Internasional dan Strategi, Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis Letnan Jenderal Sebastien Vallette, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Anna Tsivileva dan pejabat terkait lainnya.

Baca juga: Kamar dagang Indonesia-Singapura perkuat kerja sama digitalisasi UMKM

Baca juga: TNI AD dan Singapore Army perkuat kerja sama bidang pertahanan

Baca juga: Menhan sebut Indonesia perkuat kerja sama pertahanan dengan Singapura

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |