ilustrasi komet.(Dok. Magnific)
NASA mengungkap keberadaan komet antarbintang 3I/ATLAS, sebuah objek langit yang berasal dari luar Tata Surya. Komet ini diperkirakan membawa material purba dari sistem bintang lain dan menjadi objek antarbintang ketiga yang berhasil diidentifikasi setelah ʻOumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019.
Komet tersebut pertama kali terdeteksi oleh sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) yang didanai NASA di Rio Hurtado, Chili. Pengamatan lanjutan dilakukan oleh astronom lintas negara menggunakan tiga teleskop ATLAS serta Palomar Observatory melalui Fasilitas Transien Zwicky.
Berdasarkan data arsip teleskop, pengamatan awal terhadap 3I/ATLAS sebenarnya telah terekam sejak 14 Juni. Objek ini kemudian dilaporkan secara resmi setelah teridentifikasi sebagai komet antarbintang. NASA memprediksi komet akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada 30 Oktober 2026, dan akan kembali terlihat pada awal Desember setelah muncul dari sisi lain Matahari.
Lintasan dan Keamanan Bumi
3I/ATLAS datang dari arah rasi bintang Sagittarius dan saat ini berada sekitar 670 juta kilometer dari Matahari. Komet ini melintasi Tata Surya tanpa terikat oleh gravitasi Matahari. Diperkirakan, komet akan melintas pada jarak sekitar 1,4 unit astronomi (AU) dari Matahari, atau tepat di dalam orbit Mars.
NASA memastikan komet 3I/ATLAS tidak akan mendekati Bumi lebih dekat dari 1,6 AU atau sekitar 240 juta kilometer. Dengan jarak tersebut, objek ini dipastikan tidak menimbulkan ancaman bagi planet kita.
Misi Mengungkap Rahasia Sistem Bintang Lain
Penemuan 3I/ATLAS dinilai sangat penting karena membawa material yang terbentuk di lingkungan bintang lain. Dengan mempelajari kandungan debu, es, dan gasnya, para ilmuwan berharap dapat:
- Memahami proses pembentukan sistem keplanetan di luar Tata Surya.
- Membandingkan material tersebut dengan sejarah pembentukan Tata Surya kita.
- Meneliti objek yang berasal dari luar lingkungan kosmik lokal secara langsung.
Para astronom saat ini terus mengumpulkan data dari arsip teleskop dan melakukan observasi lanjutan untuk menghitung lintasan presisi serta meneliti ukuran dan sifat fisiknya. Komet diperkirakan masih dapat diamati menggunakan teleskop berbasis darat hingga September sebelum posisinya terlalu dekat dengan Matahari, dan akan kembali terpantau pada awal Desember untuk melanjutkan penelitian jangka panjang.
Kehadiran 3I/ATLAS menjadi kesempatan langka bagi dunia sains untuk mengungkap petunjuk baru tentang asal-usul sistem bintang lain dan memperkaya literatur penelitian astronomi masa depan. (































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)












