Pelatih Nilai Garuda Pertiwi Tak Kalah Jauh dari Tailan

5 hours ago 4
Pelatih Nilai Garuda Pertiwi Tak Kalah Jauh dari Tailan Pelatih Garuda Pertiwi Timo Scheuneman(MI/Khoerun Nadif Rahmat)

PELATIH Garuda Pertiwi Timo Scheuneman menilai timnya tidak kalah jauh dari Tailan meski harus mengakui keunggulan 0-1 pada final Srikandi Merdeka Cup 2026, Minggu (23/8).

Timo menyebut Garuda Pertiwi mampu memberikan tekanan kepada Tailan sepanjang pertandingan. Indonesia juga mencatat penguasaan bola 51% dan hanya kebobolan melalui situasi bola mati.

"Kami menguasai 51% bola saat melawan Tailan. Belum pernah kami menghadapi Tailan dengan penguasaan mendekati 50%. Kami hanya kebobolan sekali melalui set piece dan mereka tertekan," kata Timo.

Menurut Timo, para pemain tetap mampu memberikan performa maksimal meski menjalani jadwal padat. Garuda Pertiwi tampil lima kali dalam 10 hari selama turnamen.

"Saya puas dengan para pemain karena meski lelah, mereka tetap bisa memberikan 100%. Kombinasi permainan juga keluar, hanya memang kurang sampai ke depan," ujarnya.

Timo menilai kekalahan tersebut terasa menyakitkan karena Garuda Pertiwi memiliki peluang untuk membawa pertandingan ke adu penalti.

"Ini menyakitkan karena seharusnya kami bisa menang dan masuk ke adu penalti. Kalau sampai penalti, saya yakin kami bisa menang," tuturnya.

Ia menegaskan kualitas kedua tim tidak terpaut jauh.

"Kami tidak jomplang, tidak kalah jauh. Kalau kalah jauh, ya kalah itu lumrah. Tapi kami tipis dengan mereka," kata Timo.

Timo juga mengapresiasi perjuangan pemain yang mampu menyelesaikan turnamen tanpa mengalami cedera meski kedalaman skuad terbatas akibat pembagian tim.

"Syukur kami bisa melalui turnamen ini tanpa ada yang cedera. Kedalaman tim agak kurang karena konsekuensi dari memecah menjadi dua tim. Tapi mereka tidak ada yang cedera itu sudah luar biasa," ucapnya.

Ia menilai perjuangan para pemain yang masih berusia 14 hingga 16 tahun dalam menjalani lima pertandingan selama 10 hari menunjukkan mental yang kuat.

"Mereka bisa berjuang, bermain lima kali dalam 10 hari. Untuk pemain profesional saja susah banget, apalagi usia 14, 15, 16 tahun. Butuh mental luar biasa, butuh jiwa pejuang," pungkas Timo. (Ndf)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |