PARA peneliti dari Utrecht University Belanda mencetuskan situs website Paleolatitude yang mampu menelusuri pergeseran lempeng bumi selama 320 juta tahun terakhir. Website tersebut diklaim berguna untuk kepentingan geologi dalam meneliti lempeng tektonik, pegunungan, dan benua yang hilang karena pergeseran tanah sejak awal bumi terbentuk.
Professor Tektonik Global dan Paleogeografi di Utrecht University, Douwe Van Hinsbergen, menyatakan model dari situs paleolatitude besutan timnya itu adalah yang pertama mengulik ihwal hubungan batuan-batuan dengan lempeng asalnya. “Meskipun batuan-batuan itu telah menghilang ke dalam mantel bumi,” katanya dikutip dari Earth pada Senin, 4 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Hinsbergen, sejatinya pergeseran global untuk batu-batuan dan lempeng bumi bisa ditelusuri pergeserannya. Namun, merekonstruksi garis lintang bumi melalui geografi masa lalu bukanlah hal yang sesederhana menggeser benua ke belakang di peta.
Tantangan pertama adalah mencari tahu bagaimana lempeng tektonik bergerak relatif satu sama lain. Untuk melakukan itu, para peneliti mempelajari batuan yang mengalami deformasi di pegunungan untuk mengetahui tumbukan lempeng dan mencocokkannya dengan model semula sebelum berpindah tempat.
Meski metode ini sudah dilakukan, kata Hinsbergen, cara tersebut hanya akan menyelesaikan tahapan awal dari penelitian lempeng purba. Para peneliti disebutnya akan kesulitan juga nantinya saat menentukan titik asal dari lempeng tersebut sebelum bergeser.
Dalam konteks inilah website Paleolatitude itu berguna untuk peneliti geologi. Dengan rentang tahun penelusuran mencapai 320 juta tahun terakhir, menurut peneliti, ini merupakan periode yang mendukung karena berdekatan dengan masa kejayaan Pangaea.
Untuk saat ini, peneliti juga sedang mengembangkan model terbaru yang diproyeksikan mampu menjangkau titik asal lempeng bumi di 550 juta tahun silam. “Jika itu terjadi, alat ini bisa menjadi lebih berharga, tidak hanya bagi para spesialis tetapi juga bagi siapapun yang mencoba membayangkan Bumi sebagaimana adanya: bukan peta tetap, tetapi planet yang terus bergerak.”













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520067/original/091584500_1772605601-Tak-Hanya-Sepak-Bola--Omid-Popalzay-Kini-Jatuh-Cinta-pada-Ramadan-di-Aceh-1772525217.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)