PM Li Qiang: China lakukan berbagai langkah atasi gejolak pada 2025

11 hours ago 1

Beijing (ANTARA) - Perdana Menteri China Li Qiang mengaku bahwa China mengalami sejumlah gejolak pada 2025 tapi telah mengambil sejumlah langkah sehingga dapat mengatasi masalah tersebut.

"Pada awal tahun lalu, kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi yang semakin kompleks dan bergejolak. Dengan demikian, perekonomian China berada dalam posisi baik dengan membangun momentum yang kuat pada kuartal pertama," kata PM Li Qiang saat menyampaikan laporan kerja pemerintah periode 2025 dan target kinerja periode 2026 dalam pembukaan Sidang Kongres Rakyat Nasional China (NPC) di Balai Agung Rakyat, Beijing, China pada Kamis (5/3/2026).

Perekonomian China pada 2025 tercatat tumbuh 5 persen atau sama dibanding pada 2024. Secara total GDP China mencapai 140,18 triliun RMB pada 2025 atau 20,05 trilun dolar AS.

"Tahun 2025 merupakan tahun yang benar-benar luar biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, jarang sekali kita menghadapi situasi yang begitu berat dan kompleks, di mana guncangan serta tantangan eksternal saling terkait dengan kesulitan domestik dan pilihan kebijakan yang sulit," ungkap Li Qiang.

Sejak kuartal kedua 2025, Li Qiang menyebut pemerintah China menerapkan berbagai langkah menjaga stabilitas lapangan kerja dan ekonomi khususnya untuk mengatasi dampak kenaikan tarif Amerika Serikat

"Secara eksternal, dunia sedang mengalami perubahan, gejolak, dan ketidakstabilan yang semakin meningkat. Unilateralisme dan proteksionisme sedang meningkat sementara isu ekonomi dan perdagangan semakin dipolitisasi dan dibayangi oleh perluasan konsep keamanan nasional secara berlebihan," tambah Li Qiang.

Multilateralisme dan perdagangan bebas, ungkap Li Qiang, juga mengalami kemunduran yang serius.

"Pertumbuhan ekonomi global kekurangan momentum. Pada saat yang sama, hegemoni dan politik kekuatan menimbulkan ancaman yang semakin besar, sehingga menghadirkan tantangan serius terhadap tatanan ekonomi dan perdagangan internasional terlebih risiko geopolitik juga meningkat,karena beberapa konflik regional berkepanjangan," jelas Li Qiang.

Sedangkan di dalam negeri, juga terjadi berbagai masalah seperti ketidakseimbangan antara pasokan barang yang kuat dan permintaan domestik yang lemah, investasi di sektor properti yang terus menurun, pertumbuhan investasi infrastruktur masuk ke angka negatif, investasi di sektor manufaktur melambat, dan investasi secara keseluruhan menghadapi tekanan penurunan yang semakin besar.

"Sementara itu, pertumbuhan konsumsi masih lemah dan harga berada pada tingkat yang relatif rendah. Beberapa perusahaan menghadapi kesulitan yang semakin besar dalam produksi dan operasional, persaingan yang tidak sehat masih menjadi masalah yang menonjol dan ekspektasi pasar masih lemah," ungkap Li Qiang.

Selain itu, industri baru belu matang, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan menghadapi kesulitan, pengurangan emisi karbon, dan pengurangan polusi juga sangat menantang.

"Beberapa pemerintah daerah menghadapi ketidakseimbangan anggaran yang cukup serius, yang menambah kesulitan dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial sekaligus menyelesaikan masalah utang. Pasar properi masih dalam proses penyesuaian sehingga risiko dan potensi bahaya masih ada di sejumlah bidang utama," jelas Li Qiang.

Namun Li Qiang meyakinkan bahwa kondisi serta tren dasar pertumbuhan ekonomi jangka panjang China tidak berubah ketahanan pembangunan China sebagai negara besar akan semakin kuat.

"Seiring dengan tercapainya berbagai terobosan revolusi teknologi dan transformasi industri, China telah membangun keunggulan di sejumlah bidang. Dengan semakin besarnya kekurangan dalam tata kelola global, permintaan terhadap barang publik yang disediakan China juga semakin meningkat," kata Dia.

Secara keseluruhan, China dinilai memiliki banyak faktor positif yang memungkinkan terciptanya lingkungan yang kondusif serta perluasan kerja sama ekonomi dan perdagangan.

Dalam hal sumber daya manusia, China disebut memiliki lebih dari 80 juta tenaga profesional khusus dengan lebih dari 10 juta personel penelitian dan pengembangan (R&D). Selain itu, China setiap tahun menghasilkan lebih dari 5 juta lulusan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Pemerintah pusat China sendiri menetapkan tingkat pengangguran perkotaan ada dalah kisaran 5,5 persen dengan mempertimbangkan tingkat ketenagakerjaan China secara keseluruhan serta tekanan struktural yang cukup besar.

Sementara kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) dipatok sekitar 2 persen sehingga layak mengarahkan ekspektasi baik untuk produsen maupun konsumen.

Pemerintah juga menetapkan target penurunan emisi karbon dioksida per unit PDB sekitar 3,8 persen.

Baca juga: China perkuat permintaan domestik untuk topang ekonomi 2026

Baca juga: China bertekad tingkatkan porsi ekonomi digital pada 2026

Baca juga: Anggaran pertahanan China ditargetkan naik 7 persen pada 2026

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |