Penyebab kebakaran hutan dan cara menanggulanginya

2 weeks ago 13

Jakarta (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius, terutama saat musim kemarau ketika kondisi lahan cenderung lebih kering dan mudah terbakar. Faktor manusia menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut mayoritas kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh aktivitas manusia. Pada Agustus 2026, BNPB kembali menyatakan bahwa sekitar 99 persen lahan yang terbakar di salah satu wilayah penanganan karhutla disebabkan ulah manusia.

Selain faktor manusia, kondisi cuaca panas dan kering juga dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar serta mempercepat penjalaran api. BNPB pada akhir Juli 2026 mencatat karhutla dan kekeringan mendominasi sejumlah kejadian bencana di beberapa wilayah Indonesia.

Baca juga: BMKG: Operasi modifikasi cuaca lanjut ke wilayah Berau

Baca juga: Prabowo minta Way Kambas mendapat perhatian karena ditemukan hotspot

Penyebab kebakaran hutan

Ada sejumlah faktor yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, di antaranya:

1. Pembukaan lahan dengan cara dibakar

Pembakaran lahan untuk membuka area perkebunan atau pertanian menjadi salah satu faktor yang berisiko menimbulkan karhutla. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan vegetasi dapat menyebar ketika kondisi lahan kering dan angin cukup kuat.

BNPB menyebut pembukaan lahan menjadi salah satu bentuk aktivitas manusia yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.

2. Kelalaian manusia

Kebakaran juga dapat bermula dari aktivitas sederhana yang tidak sengaja meninggalkan sumber api. Contohnya membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah tanpa memastikan api benar-benar padam.

Dalam kondisi lingkungan yang kering, sumber api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

3. Kondisi kemarau dan lahan kering

Musim kemarau yang panjang membuat vegetasi dan bahan organik di permukaan tanah kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar.

BNPB mencatat kondisi cuaca panas dan terik dapat membuat lahan lebih mudah terbakar dan menyebabkan api cepat menjalar.

Baca juga: RI jaga komunikasi dengan tetangga soal asap karhutla, tak ada protes

4. Kondisi lahan gambut

Lahan gambut memiliki karakteristik yang membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit. Ketika mengering, lapisan gambut dapat menjadi bahan bakar dan api dapat menjalar di bawah permukaan.

Karena itu, pengelolaan ekosistem gambut dan pengendalian tinggi muka air menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla.

5. Faktor alam

Meski sebagian besar karhutla di Indonesia berkaitan dengan aktivitas manusia, faktor alam juga dapat menjadi pemicu. BNPB mencatat kekeringan berkepanjangan dan sambaran petir sebagai beberapa faktor yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Cara menanggulangi kebakaran hutan

Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan setelah api membesar. Pencegahan dan deteksi dini menjadi bagian penting agar kebakaran dapat segera dikendalikan.

1. Tidak membakar hutan dan lahan

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan, terutama ketika kondisi cuaca dan vegetasi sangat kering.

BNPB pada Agustus 2026 kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran.

2. Melakukan deteksi dini

Pemantauan kondisi cuaca, wilayah rawan dan titik panas diperlukan untuk mengetahui potensi kebakaran sedini mungkin.

Pencegahan karhutla juga mencakup pemantauan cuaca, analisis wilayah, deteksi dini serta kesiapan pemadaman darat dan udara.

3. Memperkuat patroli

Patroli di wilayah rawan kebakaran dapat membantu menemukan sumber api sebelum meluas. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pengawasan dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Baca juga: BMKG: 1.923 titik panas terdeteksi di Papua Tengah

4. Menyiapkan pemadaman darat dan udara

Jika kebakaran sudah terjadi, penanganan dapat dilakukan melalui operasi pemadaman darat maupun udara sesuai kondisi di lapangan.

Pada Agustus 2026, BNPB memperkuat operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Upaya tersebut mencakup patroli, water bombing dan operasi modifikasi cuaca.

5. Mengelola bahan bakar di lahan

Tumpukan vegetasi kering dapat menjadi bahan bakar yang mempercepat penjalaran api. Karena itu, pengelolaan bahan bakar menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menempatkan pengelolaan bahan bakar serta pembuatan sekat bakar sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko dan luas area kebakaran.

6. Melibatkan masyarakat

Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha dan berbagai pihak terkait.

BNPB memiliki pedoman pencegahan karhutla berbasis masyarakat yang menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa dalam mengurangi risiko kebakaran.

7. Melaporkan titik api secepatnya

Masyarakat yang menemukan asap atau titik api di kawasan hutan dan lahan perlu segera melaporkannya kepada pihak berwenang. Pelaporan sejak dini dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial di wilayah terdampak.

Karena itu, penanggulangan kebakaran hutan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mengutamakan pencegahan, pengawasan, deteksi dini, kesiapan pemadaman dan keterlibatan masyarakat. Pencegahan sejak munculnya potensi api dinilai lebih penting daripada menunggu kebakaran meluas.

Baca juga: 7 Penyebab kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia

Baca juga: BNPB perkuat operasi karhutla di Jambi, Kalsel, Kalteng, Kalbar

Baca juga: BNPB: Karhutla hanguskan 396 hektare lahan di tujuh distrik di Nabire

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |