Prabowo: Pembunuhan Marsinah Sesungguhnya Tak Perlu Terjadi

1 hour ago 1

PRESIDEN Prabowo Subianto mengatakan pembunuhan aktivis buruh Marsinah yang terjadi 33 tahun lalu seharusnya tak perlu terjadi. Prabowo menyampaikan pandangannya saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah yang didedikasikan untuk perempuan yang tewas dibunuh dan disiksa pada 1993 itu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi," kata Prabowo di lokasi museum, Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Alasannya, ia berujar, karena Indonesia adalah negara dengan falsafah dasar Pancasila.

Ketua Umum Partai Gerindra ini mengatakan sila kelima Pancasila soal keadilan sosial seharusnya menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Yang kaya harus narik yang miskin, yang kuat bantu yang lemah. Kekeluargaan," ucap Prabowo.

Maka dari itu, pembunuhan terhadap pejuang buruh dia nilai tak seharusnya terjadi. "Sebenarnya kalau dasar negara ini dipikirkan dan diresapi, tidak perlu," tuturnya.

Mantan Menteri Pertahanan ini mengatakan tragedi Marsinah adalah masa lalu yang harus diperbaiki bersama. Ia menilai Marsinah adalah simbol perjuangan masyarakat lemah yang tidak memiliki kekuasaan.

“Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan semua, mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak punya kekuasaan, orang-orang yang tidak punya kekuatan," kata Prabowo.

Prabowo merasa terhormat karena bisa menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional sekaligus meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk. Ia menyampaikan bahwa kalangan buruh sebelumnya meminta agar Marsinah diangkat menjadi pahlawan nasional.

Marsinah adalah seorang aktivis buruh yang tewas dibunuh karena memperjuangkan hak-hak pekerja di tempat dia bekerja di PT CPS Sidoarjo, Jawa Timur.

Lahir pada 10 April 1969 di Nganjuk, Jawa Timur, ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Surya Putra (CPS), pabrik arloji di Sidoarjo. Marsinah aktif memimpin aksi-aksi untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja.

Pada 9 Mei 1993, Marsinah ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Pembunuhan Marsinah adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang sampai saat ini masih belum tuntas.

Marsinah diduga dibunuh setelah disiksa dan diculik karena dirinya getol memimpin aksi demonstrasi untuk kenaikan upah buruh di pabrik tempatnya bekerja.

Pada 3 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi demonstrasi di pabrik tempatnya bekerja. Akibat unjuk rasa tersebut, manajemen PT CPS memanggil 13 buruh yang dianggap sebagai penggerak aksi mogok dengan bantuan aparat militer.

Pada 5 Mei 1993, Ke-13 buruh tersebut diinterogasi, diancam, dan dipaksa untuk membuat surat pengunduran diri. Mengetahui rekan-rekannya diintimidasi, Marsinah mendatangi markas Kodim Sidoarjo untuk mencari informasi dan melakukan protes. Pada malam harinya, Marsinah menghilang.

Marsinah diduga disiksa dan dianiaya secara brutal hingga tewas. Jenazahnya ditemukan pada 8 Mei 1993 di sebuah gubuk tengah hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, dengan tanda-tanda penyiksaan berat.

Pada 2025, 32 tahun setelah kematiannya, Presiden Prabowo menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional tidak berkaitan dengan penyidikan ulang kasus pembunuhan aktivis buruh itu.

Prasetyo berkata Marsinah dianugerahkan pahlawan karena melihat jasanya. "Saya kira enggak ada hubungannya juga ya. Jadi hari ini kami melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh terutama juga para pendahulu-pendahulu," kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin, 10 November 2025.

Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Agar Prajurit Indonesia Tak Gugur sebagai Pasukan Perdamaian

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |