Gelombang air bandang dan material es menyapu kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Korban tewas capai 682 jiwa dan ribuan orang dilaporkan hilang.(EPA)
TIM penyelamat di Nepal dan Tiongkook berpacu dengan waktu pada Sabtu untuk mengendus keberadaan ribuan orang yang dinyatakan hilang setelah gelombang air bandang dahsyat menerjang kawasan Himalaya. Bencana mirip tsunami yang membawa material es dan lumpur tersebut meratakan permukiman warga serta memicu krisis kemanusiaan di kedua negara.
Data resmi gabungan dari kedua negara mencatat jumlah korban hilang mendekati 3.000 orang, sementara 682 jenazah telah ditemukan. Beberapa jenazah diduga terseret jauh hingga ke aliran sungai di wilayah India, di mana pejabat setempat melaporkan penemuan tujuh jasad korban banjir.
Di tengah keputusasaan, titik terang didapatkan pada Sabtu malam. Tentara Nepal berhasil memasukkan pipa udara ke dalam terowongan di lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli 3A, tempat para pekerja diduga terjebak.
"Kami telah mulai menyalurkan udara melalui celah kecil tersebut, dan kami kini akan memulai pekerjaan penggalian serta mengirimkan tim penyelamat ke dalam," kata Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, dalam keterangannya.
Diperkirakan lebih dari 100 pekerja masih bertahan hidup di dalam terowongan PLTA Trishuli 3A dan 3B. Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat setidaknya 933 pekerja hidropower dan 517 warga asing, termasuk wisatawan dan peziarah, masih berada dalam daftar pencarian.
Survei Geologi AS (USGS) mengonfirmasi pemicu bencana ini adalah runtuhnya gletser di perbatasan Nepal dan Tibet. Kepala Perubahan Iklim PBB, Simon Steill, menegaskan fenomena ini menjadi peringatan keras atas krisis iklim global.
"Runtuhnya gletser dan banjir bandang secara tiba-tiba ini merupakan pengingat yang menyakitkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini," ujar Steill. "Kami juga tahu iklim yang makin panas, yang dipicu oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas secara masif oleh manusia, membuat tragedi seperti ini... menjadi jauh lebih mungkin terjadi, lebih sering, dan lebih parah."
Di Distrik Nuwakot, Nepal, kehancuran meluas membuat warga terpukul. "Semua permukiman di dekat sungai hanyut," ujar seorang warga setempat, Buddhi Ram Dangol, kepada AFP. "Tidak ada yang tersisa."
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal memperkirakan biaya rekonstruksi dapat mencapai "milyaran dolar". Saat ini pemerintah memprioritaskan upaya evakuasi serta memohon bantuan internasional berupa drone pengangkut berat, teknologi pencari korban, hingga perlengkapan pendingin jenazah.
Di wilayah Tibet, otoritas China melaporkan tujuh orang tewas dan 554 warga masih hilang di area pelabuhan perbatasan Gyirong. Lebih dari 2.000 personel SAR telah dikerahkan ke lokasi terdampak untuk menyisir sisa-sisa reruntuhan. (AFP/Z-2)


















































