Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Kapal di Selat Hormuz Diserang

2 hours ago 2
Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Kapal di Selat Hormuz Diserang Serangan AS ke Iran(Centcom)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran. Langkah ini bakal diambil setiap kali pasukan negara tersebut menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebutkan target potensial mencakup fasilitas yang berada di dekat atau di dalam ibu kota Tehran. Respons militer tersebut akan menyasar bentuk serangan apa pun terhadap jalur pelayaran vital itu, baik menggunakan rudal, roket, nirawak (drone), maupun senjata lainnya.

Ancaman Trump muncul setelah AS melancarkan serangan ke Iran selama 11 malam berturut-turut. Di sisi lain, Tehran memperingatkan AS agar tidak menargetkan fasilitas nuklirnya.

Media pemerintah Iran melaporkan pertahanan udara di Tehran telah diaktifkan. Ledakan juga dilaporkan terjadi di kota Tabriz, pelabuhan Chabahar dan Konarak, serta kota Bushehr yang merupakan lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran.

Peringatan Keras dari Tehran dan Eskalasi Kawasan

Iran memperingatkan akan adanya pembalasan setelah Trump menyatakan AS bakal segera memukul situs nuklir bawah tanah di dekat Natanz. Trump juga menyebut target militer berikutnya bisa berupa kompleks Pickaxe Mountain, situs bawah tanah yang diduga menjadi tempat fasilitas pengayaan nuklir tak terdaftar.

Negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan balasan melalui unggahan di X:

"Persamaan perang ini jelas: semuanya atau tidak sama sekali! Di wilayah di mana kami tidak menjual minyak, tidak ada seorang pun yang akan menjual minyak. Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang aman, dan keamanan selat ada tanpa kehadiran pasukan Amerika. Kami telah berulang kali mengatakan bahwa situasi selat tidak akan kembali ke kondisi pra-perang."

Eskalasi ini memicu lonjakan harga minyak hingga menyentuh angka US$94 pada Rabu. Tentara Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya telah menghalau serangan drone dari Iran, sementara Bahrain dan Yordania turut mencegat serangan drone dan rudal.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington masih bersedia melakukan diplomasi, meski ia meragukan keseriusan Iran dalam berunding.

Ancaman Kelompok Houthi dan Dampak Ekonomi Perang

Ancaman konflik kini meluas ke Laut Merah. Trump menyatakan akan "membereskan" pemberontak Houthi jika kelompok asal Yaman yang didukung Iran itu merealisasikan blokade terhadap pelabuhan Arab Saudi. Pejabat media Houthi sebelumnya menyatakan menutup Selat Bab al-Mandab bagi kapal-kapal Arab Saudi.

Grup manajemen risiko maritim Inggris, Vanguard, melaporkan dua kapal tanker pengangkut minyak mentah Saudi menuju Tiongkok dan India terpaksa memutar balik menuju Terusan Suez setelah adanya pengumuman tersebut.

Ancaman ini berisiko memperparah gangguan pelayaran internasional. Padahal, pada Juni lalu, AS dan Iran sempat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tiga pekan kemudian, Trump menyatakan gencatan senjata "berakhir" menyusul serangan Iran terhadap kapal-kapal di Hormuz dan serangan balasan dari AS.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan perang dengan Iran telah menelan biaya sekitar US$37,5 miliar bagi AS, naik hampir US$8 miliar sejak perkiraan Mei lalu. Ia memperingatkan latihan militer terpaksa dikurangi kecuali Kongres menyetujui suntikan dana darurat.

Di tengah situasi ini, Trump menghadiri upacara penghormatan jenazah prajurit AS yang tewas di Timur Tengah di Dover, Delaware. Pentagon telah mengonfirmasi nama prajurit keempat yang tewas, yakni Sersan Angel S. Rampersad, 28, yang sebelumnya dinyatakan hilang usai serangan Iran di Yordania. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |