Trump Klaim Korban Perang Iran Rendah, Tuai Kritik Tajam

6 hours ago 5
Trump Klaim Korban Perang Iran Rendah, Tuai Kritik Tajam Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menuai kritik tajam dari berbagai spektrum politik setelah dirinya membingkai jumlah korban tewas tentara AS dalam konflik Iran sebagai angka yang relatif rendah dibandingkan dengan perang-perang sebelumnya. Melalui platform media sosial Truth Social pada Selasa (21/7) malam, Trump mengunggah grafik yang merinci durasi dan jumlah korban jiwa dari perang yang dimulai di bawah kepemimpinan presiden-presiden terdahulu.

Dalam unggahan tersebut, Trump membandingkan data korban sebagai berikut:

  • Perang Vietnam: 19 tahun, 58.220 tewas.
  • Perang Korea: 3 tahun, 36.574 tewas.
  • Perang Irak: 9 tahun, 4.600 tewas.
  • Perang Afghanistan: 20 tahun, 2.000 tewas.

Sementara itu, konflik saat ini yang dilabeli sebagai Konflik Militer Iran tercatat memakan korban 18 tewas. Grafik tersebut juga menyertakan Perang Venezuela: 1 hari, 0 tewas. "Ini fakta yang sebenarnya," tulis politikus Republik berusia 80 tahun itu.

Kritik Lintas Partai

Pernyataan Trump tersebut muncul hanya beberapa hari setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania dan Irak yang menewaskan empat anggota layanan Amerika. Langkah Trump yang seolah memamerkan rendahnya angka kematian dianggap meremehkan pengorbanan tentara.

Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, mengecam keras melalui platform X. "Trump membual tentang pembunuhan 18 tentara AS. Begitulah cara saya membaca unggahan bodoh ini. 'Presiden perdamaian' pergi berperang dan membunuh serta melukai pasukan kita," tulisnya.

Senada dengan itu, Gubernur California Gavin Newsom dari Partai Demokrat menyebut tindakan Trump tidak menghormati prajurit. Sementara itu, Rep. Jason Crow dari Colorado menyatakan kepada CNN bahwa mentalitas Trump menunjukkan ketidaklayakan untuk menjabat, karena setiap nyawa sangat berarti bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dampak Manusia dan Finansial

Meskipun Trump menonjolkan angka 18 kematian, Pentagon melaporkan bahwa sekitar 500 personel lain mengalami luka-luka. Laporan terbaru dari The New York Times bahkan menyebutkan bahwa pemerintahan Trump diduga menahan informasi mengenai puluhan cedera lain.

Di sisi lain, dampak terhadap warga sipil Iran sangat menghancurkan. Mengutip data pemerintah Iran melalui NPR, setidaknya 3.000 orang telah tewas sejak perang pecah pada akhir Februari, termasuk 168 anak-anak. Secara finansial, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan biaya konflik telah melampaui Rp584 triliun (US$37 miliar) dan kini meminta tambahan anggaran sebesar Rp1.058 triliun ($67 miliar) kepada kongres.

Diplomasi yang Buntu

Harapan untuk mengakhiri pertempuran sempat muncul saat kerangka perdamaian (MoU) ditandatangani pada 17 Juni. Namun, kesepakatan itu hancur setelah serangan kembali berlanjut, terutama di Selat Hormuz. Trump secara sepihak menyatakan gencatan senjata berakhir pada akhir Juni setelah Iran menembaki kapal-kapal di jalur air tersebut.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa meskipun Iran mengirim sinyal ingin bernegosiasi, tindakan mereka di lapangan, seperti meluncurkan rudal dan drone ke kapal-kapal, menjadi alasan AS terus melakukan serangan balasan. Hingga Selasa malam, AS dilaporkan telah menyerang Iran selama sepuluh malam berturut-turut.

Pada Rabu, Trump dijadwalkan mengunjungi Pangkalan Angkatan Udara Dover untuk menghadiri prosesi pemulangan jenazah empat anggota layanan yang baru saja gugur. Ini akan menjadi upacara ketiga yang dihadiri Trump sejak perang dimulai. (The Independent/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |