Ilustrasi--Penjual jamu keliling melayani pembeli di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (8/12/2023).(ANTARA/Arnas Padda)
MINAT masyarakat terhadap jamu sebagai ramuan herbal alami terus meningkat. Namun, di balik tren kembali ke alam ini, ancaman kesehatan serius masih mengintai melalui peredaran produk jamu yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).
Fenomena ini dipicu oleh keinginan konsumen untuk mendapatkan hasil pengobatan yang cepat. Celah psikologis inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha ilegal.
Dengan mencampurkan BKO ke dalam racikan herbal, produk mereka tampak jauh lebih ampuh dibandingkan jamu murni, sehingga membangun kepercayaan semu di mata konsumen.
Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Balai Besar POM di Serang, Devana Ardiaty, mengungkapkan bahwa praktik ini telah menjadi pola yang terorganisasi. Berdasarkan data pengawasan, penambahan bahan kimia tersebut dilakukan secara sengaja untuk memanipulasi persepsi masyarakat.
"Temuan BPOM selama enam tahun terakhir menunjukkan praktik penambahan BKO bukanlah kejadian yang kebetulan. Polanya berulang: memilih bahan kimia tertentu agar konsumen segera merasakan manfaat, lalu membangun kepercayaan melalui pengalaman sekali minum langsung terasa," ujar Devana dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Rabu (15/7).
Tiga Langkah "Filter" Sebelum Membeli Jamu
Agar tidak terjebak oleh janji manis efek instan yang berisiko merusak organ tubuh dalam jangka panjang, Devana membagikan tiga kebiasaan sederhana yang bisa menjadi pelindung bagi konsumen:
| 1. Cek KLIK | Periksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Gunakan aplikasi BPOM Mobile untuk memvalidasi legalitas produk. |
| 2. Waspadai Klaim Berlebihan | Hindari produk yang diklaim "sapu jagat" atau mampu mengobati berbagai penyakit sekaligus (pegal linu, stamina, diet, dll). Tidak ada satu produk yang menjadi solusi semua masalah kesehatan. |
| 3. Jangan Terpukau Efek Instan | Pahami bahwa jamu bekerja secara alami dan bertahap. Jika efek terasa "terlalu instan", ada indikasi kuat adanya kandungan obat kimia berbahaya. |
Devana menekankan bahwa mekanisme kerja Obat Bahan Alam sangat berbeda dengan obat kimia sintetis. Keampuhan jamu tidak bisa diukur hanya dari seberapa cepat rasa sakit hilang setelah satu kali teguk.
“Pada akhirnya, yang patut menjadi pertimbangan bukanlah seberapa cepat efeknya terasa, melainkan apakah produk jamu tersebut aman, bermutu, dan memiliki khasiat yang telah dibuktikan sesuai ketentuan. Sebab, kesehatan bukan tentang hasil yang instan, tetapi tentang perlindungan bagi tubuh dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Z-1)


















































