Xi Jinping dan Kim Jong Un mulai pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang

5 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Presiden China Xi Jinping dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memulai pertemuan tingkat tinggi mereka di Pyongyang, Senin, menurut media China.

Sementara itu, para pengamat mencermati dengan saksama apakah Xi dan Kim akan membahas soal program nuklir Korea Utara, yang belakangan ini tidak dikritik oleh China.

Xi melakukan kunjungan selama dua hari ke Korea Utara hingga Selasa (9/6), setelah kunjungan terakhirnya pada 2019 lalu. Pertemuan itu juga diharapkan dapat menegaskan kembali komitmen China dan Korea Utara untuk mempererat kerja sama strategis setelah para pemimpin itu sepakat memperkuat hubungan bilateral pada KTT di Beijing pada September 2025 lalu.

Setelah pertemuan antara Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada pertengahan Mei lalu, Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin tersebut menegaskan tujuan bersama mereka terkait denuklirisasi Korea Utara. Namun, China tidak menyinggung secara khusus masalah tersebut dalam pernyataan resminya.

Terkait pertanyaan apakah Beijing secara diam-diam menyetujui Pyongyang sebagai negara nuklir, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Lin Jian menegaskan kembali dalam konferensi pers, Senin, bahwa kebijakan China terkait isu Semenanjung Korea itu telah mempertimbangkan soal kesinambungan dan stabilitas negara.

Xi Jinping bertemu Kim Jong Un setelah pertemuannya dengan Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing Mei lalu.

Pada Minggu (7/6), media pemerintah Korea Utara mengutip pernyataan Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un sekaligus pejabat senior partai berkuasa, yang mengatakan bahwa pernyataan Trump dan Xi soal denuklirisasi Korea Utara adalah "informasi palsu".

Pernyataan Kim Yo Jong itu mengindikasikan bahwa Pyongyang tidak berniat membahas program nuklirnya dalam pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Xi Jinping.

Sementara itu, Mitsuhiro Mimura, seorang profesor di Universitas Prefektur Niigata yang sangat paham isu Korea Utara, mengatakan bahwa Trump mungkin telah meminta Xi untuk menjadi perantara dalam pertemuan puncak AS-Korea Utara, tanpa menjadikan masalah denuklirisasi sebagai prasyarat.

Meskipun Xi tampaknya tidak akan mengabaikan tujuan akhir China untuk menghilangkan senjata nuklir dari Semenanjung Korea, Mimura menjelaskan sikap dasar Beijing itu justru membiarkan Washington dan Pyongyang untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Senin di surat kabar Rodong Sinmun, corong resmi Partai Buruh Korea (WPK) yang berkuasa, Xi menyatakan China dan Korea Utara harus menentang hegemonisme dan politik kekuasaan. Xi juga mengajak Korea Utara untuk menolak segala skema atau tindakan yang bertujuan menghidupkan kembali militerisme dan merusak keamanan serta stabilitas regional.

Pernyataan Xi itu, yang juga dilaporkan oleh media milik Pemerintah China, tampaknya ditujukan kepada Amerika Serikat dan Jepang.

Baru-baru ini, Beijing semakin gencar mengkritik kebijakan penguatan pertahanan Tokyo, yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi, di tengah perselisihan bilateral terkait pernyataan Takaichi di parlemen pada November lalu mengenai Taiwan.

Takaichi menyatakan serangan dari daratan China terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang, yang berpotensi memicu respons dari Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung Amerika Serikat.

Setibanya di bandara Pyongyang, Kim Jong Un dan istrinya, Ri Sol Ju, menyambut Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan. Setelah Xi turun dari tangga pesawat, Kim dengan hangat menjabat tangan Xi, menurut Kantor Berita Xinhua.

Anak-anak Korea Utara lalu memberikan bunga kepada Xi dan Peng, yang tiba di Pyongyang dengan didampingi diplomat senior Wang Yi dan Cai Qi, tokoh nomor lima di Partai Komunis China.

Bendera Korea Utara dan bendera China banyak dikibarkan di jalan utama Pyongyang untuk menyambut Xi Jinping. Media Rodong Sinmun juga melaporkan dalam editorialnya, Senin, bahwa Korea Utara akan terus melangkah maju dengan bergandengan tangan bersama China.

Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik antara China dan Korea Utara, yang ditandatangani pada tahun 1961, memuat ketentuan yang menjamin dukungan militer dan bantuan lainnya secara segera jika terjadi serangan bersenjata terhadap salah satu negara tersebut.

Hubungan China dan Korea Utara baru-baru ini membaik setelah sempat memburuk akibat eratnya kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia, yang ditandai dengan pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu Moskow dalam perang melawan Ukraina.

China adalah sekutu terdekat dan paling berpengaruh bagi Korea Utara dalam hal ekonomi. Kedua negara Asia itu pernah bertempur bersama dalam Perang Korea 1950-1953 melawan pasukan PBB yang dipimpin AS. China dan Korea Utara juga telah lama menggambarkan hubungan mereka sebagai "saudara seperjuangan".

Sumber: Kyodo

Baca juga: Xi Jinping bahas akses China ke Laut Jepang saat kunjungi Korut

Baca juga: Kim Jong Un buka peluang dialog dengan AS, China pantau situasi

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |