Aliansi Iran di Yaman Ancam Serangan Dahsyat ke Arab Saudi

6 hours ago 4
Aliansi Iran di Yaman Ancam Serangan Dahsyat ke Arab Saudi Ilustrasi.(Magnific)

KELOMPOK Ansar Allah dari Yaman, yang lebih dikenal sebagai gerakan Houthi, memberikan peringatan keras kepada Arab Saudi mengenai potensi serangan dahsyat jika Riyadh melakukan eskalasi militer. Ancaman ini muncul menyusul pengumuman blokade angkatan laut oleh kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut terhadap pengiriman komoditas Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb.

Sumber internal Ansar Allah mengungkapkan kepada Newsweek bahwa langkah ini merupakan respons langsung terhadap pembatasan pengiriman dan perjalanan yang diberlakukan Saudi ke wilayah Yaman yang dikuasai kelompok tersebut. "Operasi kami yaitu memberlakukan blokade terhadap musuh Saudi sebagai tanggapan atas blokade mereka terhadap Yaman selama bertahun-tahun," ujar sumber tersebut pada Selasa (21/7/2026).

Eskalasi di Jalur Perdagangan Vital

Blokade yang diumumkan pada Senin lalu ini menargetkan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah. Ansar Allah menegaskan bahwa strategi mereka saat ini secara khusus menyasar kapal-kapal dan kebijakan Arab Saudi, bukan terkait langsung dengan kerusuhan regional yang dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran yang meletus Februari lalu.

Namun, ancaman ini dianggap sangat serius mengingat rekam jejak Ansar Allah dalam mengganggu jalur air internasional. Sebelumnya, kampanye mereka di Laut Merah memaksa dua pertiga kapal kontainer dialihkan melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang jauh lebih jauh dan mahal.

Konteks Konflik: Ketegangan terbaru pecah pekan lalu setelah Ansar Allah menuduh Riyadh menargetkan landasan pacu di Bandara Internasional Sanaa saat delegasi pimpinan kelompok tersebut kembali dari pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Respons Arab Saudi

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk keras tindakan Ansar Allah. Dalam pernyataan resminya, Riyadh membantah tuduhan sabotase dan mengeklaim telah memfasilitasi transit lebih dari 300 kapal yang membawa bahan pangan dan bahan bakar ke pelabuhan Yaman utara selama semester pertama 2026.

Pihak Saudi menuduh balik milisi Houthi mencoba mengekspor masalah ekonomi domestik dan penolakan rakyat dengan menciptakan tuduhan palsu terhadap Kerajaan. Meski demikian, Riyadh menyatakan tetap berkomitmen pada penyelesaian damai tetapi akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai hukum internasional.

Tekanan bagi Pemerintahan Trump

Situasi ini menambah beban bagi Presiden AS Donald Trump. Setelah sempat memerintahkan serangan intensif terhadap Ansar Allah pada awal 2025 yang menghasilkan gencatan senjata singkat, kini AS kembali menghadapi ketidakstabilan di kawasan tersebut.

Runtuhnya nota kesepahaman AS-Iran bulan lalu menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan tekanan pada stok amunisi Pentagon. Gangguan lalu lintas maritim di selat vital kedua setelah Selat Hormuz dipastikan akan memperburuk biaya ekonomi global yang akan dirasakan oleh perusahaan dan konsumen di seluruh dunia, termasuk potensi dampak pada nilai tukar rupiah akibat fluktuasi harga energi global.

Ansar Allah, yang dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh pemerintahan Trump, menyatakan kesiapan untuk konfrontasi skala penuh jika diperlukan. "Rakyat kami telah menanggung banyak ketidakadilan Saudi yang didukung Amerika," tegas sumber Ansar Allah, merujuk pada dukungan massa dalam reli besar di Yaman baru-baru ini. (Newsweek/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |