DIREKTUR PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas bisa menguat ke Rp 2.690.000 per gram pada perdagangan pekan depan. “Seandainya emas dunia menguat di resisten kedua itu di US$ 4348 per troy ounce, kemudian logam mulianya di Rp 2.780.000 rupiah per gram” kata Ibrahim, Ahad, 5 Julil 2026.
Artinya, harga emas pada pekan depan diperkirakan melanjutkan tren kenaikan dari penutupan perdagangan pada Jumat, 3 Juli 2026 di level Rp 2.670.000 per gram.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Apabila terkoreksi, Ibrahim memperkirakan harga emas jatuh ke Rp 2.650.000 per gram pada perdagangan pekan depan. “Apabila terkoreksi lagi, support kedua di US$ 4.000 per troy ounce, kemudian logam mulianya di Rp 2.550.000 per gram,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaannya, Ibrahim mengatakan ada tiga faktor yang memengaruhi kenaikan harga emas pada pekan depan. Faktor pertama adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim mengatakan, setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman mengakhiri perang, Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan akan kembali lancar sehingga mengakibatkan minyak dunia mengalami pasokan berlebih dari yang semula 100 juta barel per hari menjadi 103,1 juta per barel per hari. Walhasil, harga komoditas tersebut akan terus mengalami penurunan yang signifikan. Situasi inilah yang berpotensi menaikkan harga emas.
Faktor kedua adalah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat. Ibrahim mengatakan kondisi internal berupa angka pengangguran dan harga minyak dunia yang terus anjlok akan membuat inflasi terus turun mendekat 2 persen. Kondisi itu berpotensi membuat Bank Sentral tidak akan menaikkan suku bunga acuan. “Hanya mempertahankan suku bunga,” ujarnya.
Kebijakan Federal Reserve ini, kata Ibrahim, berpotensi menciptakan lonjakan harga emas. Ia bahkan memperkirakan harga emas bisa meroket mencapai US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun.
Faktor terakhir adalah sisi pasokan dan permintaan. Ibrahim menjelaskan, Bank Sentral Global menambah pembelian emas batangan sebanyak 41 ton pada Mei. Adapun Cina memiliki tambahan sebesar 10 ton pada Mei sehingga totalnya adalah 2.331 ton. Pun Uzbekistan menambah stok sehingga memiliki sekitar 33 ton emas batangan. Kazakhstan pun memiliki kenaikan stok emas menjadi 361 ton.
Artinya, kata Ibrahim, pelemahan harga emas belakangan menjadi kesempatan Bank Sentral Global terus membeli komoditas tersebut. Sebab, kata Ibrahim, mereka mengetahui harga emas akan melonjak jika Selat Hormuz kembali dibuka dan harga minyak dunia turun.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)








:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)









