ITB Wujudkan Museum Gagasan Para Alumni. Apa Saja Isinya?

4 hours ago 1

INSTITUT Teknologi Bandung mendirikan Museum ITB di Gedung Sasana Budaya Ganesha alias Sabuga. Proses pembangunannya berasal dari ide dan mimpi alumni selama satu windu sebelumnya. “Biayanya Rp 19 miliar dari para donatur alumni, filantropi, pribadi, yayasan, dan perusahaan swasta,” kata Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB Andryanto Rikrik Kusmara yang ditemui Tempo saat pembukaan Museum ITB, Jumat, 3 Juli 2026.

Lokasi Museum ITB berada di lantai tiga dan empat Gedung Sabuga bagian belakang dekat lapangan olahraga. Dari ruang lobi pengunjung bisa naik dengan lift atau anak tangga. Pengelola merencanakan harga tiket masuk termasuk tiket nonton di teater sebesar Rp 50 ribu bagi kalangan umum. “Buat sivitas akademika, mahasiswa, dan pelajar, akan diberikan harga diskon,” ujar Rikrik yang sekaligus kurator museum itu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Terdiri dari ruang pamer dan 360° Teater Dome, Museum ITB didesain menjadi empat zona. Area pertama adalah akar sejarah ITB yang dirintis pada 1920 dengan menampilkan dokumentasi visual peresmian kampus, peta awal dan proses pembangunan termasuk gedung ikonik Aula Barat dan Timur. Pada zona ini ikut dipajang pula buku catatan nama mahasiswa yang ikut memuat data Sukarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama atau Bapak Bangsa.

Isi buku itu dapat mudah diakses pengunjung karena sudah disalin datanya ke format digital. Pengunjung tinggal memilih fitur yang diinginkan dengan jari untuk membuka buku pada perangkat monitor layar sentuh.

Zona kedua tentang riset dan pendidikan memajang banyak artefak perangkat teknologi dari masa lalu dan karya inovasi kampus. Alurnya dibuat berdasarkan konteks proses riset berlangsung sebelum menjadi temuan, inovasi, atau pencapaian. Perjalanannya dimulai dari kegiatan ekskavasi, pengamatan geologis, dan pembacaan jejak masa lalu dalam ilmu kebumian.

Dari eksplorasi itu proses berlanjut ke ruang laboratorium, tempat instrumen, pembuatan purwarupa atau prototipe, dan artefak eksperimen yang menjadi medium pengujian gagasan di bidang sains, teknologi, dan seni. Pengujian hipotesis dan kegagalan menjadi bagian dari pembelajaran.

"Zona ketiga menggambarkan kehidupan kampus antar zaman yang ditutup oleh zona inspirasi masa depan," kata Rikrik menerangkan. 

Menurut Rikrik, pada tahap awal ini Museum ITB masih menampilkan koleksi yang general sebagai masa perkenalan. Sepanjang 106 tahun ITB, dia menambahkan, banyak informasi dan artefak yang diolah untuk ditampilkan. Agar lebih spesifik, telah disiapkan pula area untuk pameran temporer yang terbuka untuk semua program studi dengan durasi selama enam bulan seperti yang diinisiasi oleh Program Studi Teknik Kimia. “Nanti juga akan ada program publik seperti yang mau digelar Observatorium Bosscha di sini,” ujarnya.

Salah satu alumni penggagas Museum ITB, Dermawan Wibisono, mengatakan, selain ruang pamer, museum juga menyuguhkan tontonan dalam bangunan kubah yang menayangkan film-film yang kental muatan teknologi dan sains. Dia mencontohkan tentang fondasi cakar ayam dan penemuan kodok langka di Kalimantan. “Rencananya ini akan menjadi teater 5 dimensi. Selain melihat gambar tiga dimensi juga bisa merasakan getaran dan efek untuk film tentang tsunami,” ujarnya.

Wahana lain yang dihadirkan di atap gedung adalah pesawat Gelatik bantuan dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara sebagai bahan praktikum mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB. Rencananya juga, menurut Dermawan, koleksi museum akan ditambah pesawat lain yaitu Mikoyan-Gurevich atau MiG-21, jet tempur legendaris buatan Uni Soviet. “Tujuan utama pendirian museum ini adalah sebagai edu fun centre, tempat rekreasi yang mengandung pendidikan,” katanya. 

Pesawat PZL-104 Gelatik hasil produksi bersama Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio dengan PZL Warszawa-Okecie, Polandia, sejak 1963. Pesawat yang pernah digunakan sebagai bahan praktikum mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara itu kini menjadi koleksi Museum ITB. Tempo/ANWAR SISWADI

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengatakan pendirian museum untuk menaruh warisan masa lalu dan meninggalkan jejak untuk masa depan. “Museum ini bukan sekedar tempat menyimpan benda-benda bersejarah, ini adalah ruang pengetahuan, refleksi, dialog, dan inspirasi,” ujarnya sambil berjanji memperluas museum seiring rencana pengembangannya agar terus tumbuh dan koleksinya bertambah. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan perjalanan pendirian Museum ITB cukup panjang, yakni selama satu windu atau delapan tahun, sejak mulai digagas. Menurutnya, museum punya arti penting sebagai etalase budaya dan peradaban. Sejauh ini di Indonesia terdata 516 museum. Fadli Zon meminta pengelola untuk mendaftarkan Museum ITB ke pemerintah untuk kemudian diklasifikasi sesuai standar.

“Di dalam museum itu harus ada kurator, konservator, edukator, dan yang perlu diperhatikan adalah story line, tata pamer, lighting, narasi, dan jenis hurufnya,” kata dia juga saat acara pembukaan Museum ITB.

Fadli menyatakan Kementerian Kebudayaan saat ini terus memperbaiki Museum Nasional agar menjadi acuan (bench mark) museum lain. Setelah ITB, menurut Fadli Zon,  kampus lain yang usianya lebih dari 50 tahun dinilainya perlu memiliki museum. Dia telah mengirim pesan foto ke rektor almamaternya. “Kapan UI (Universitas Indonesia)?”. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |