China tambah bantuan saat epidemi Ebola di Kongo lampaui 1.000 kasus

2 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menegaskan komitmen untuk terus membantu penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dengan mengirimkan tim medis, obat-obatan, dan perlengkapan penanggulangan epidemi.

Langkah itu dilakukan ketika jumlah kasus terkonfirmasi Ebola di negara tersebut telah melampaui 1.000 kasus dan memicu kekhawatiran akan potensi krisis kesehatan yang lebih luas.

"Kami memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC dan Uni Afrika segera setelah penyakit itu menyerang. Kami mengirimkan para ahli medis serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan dan perlengkapan penanggulangan epidemi ke DRC," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.

Republik Demokratik Kongo pada Minggu (21/6) melaporkan jumlah kasus Ebola terkonfirmasi telah mencapai 1.003 kasus sejak wabah diumumkan pada 15 Mei. Dari jumlah tersebut, 254 orang meninggal dunia, sehingga tingkat kematian mencapai 25,3 persen.

Menurut Guo Jiakun, dukungan China tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga keterlibatan langsung tenaga kesehatan di lapangan.

"Saat ini, hampir seribu tenaga medis sedang berjuang melawan Ebola bersama masyarakat Afrika," tambah Guo Jiakun.

Ia menjelaskan bahwa setelah tiba di Kinshasa, ibu kota DRC, pada 2 Juni, para ahli medis China segera bekerja sama dengan otoritas kesehatan setempat untuk mempelajari kebutuhan lapangan sekaligus memberikan layanan dan konsultasi medis.

"Mengingat parahnya wabah tersebut, pemerintah China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat tambahan kepada DRC, Uganda, dan Uni Afrika," tambah Guo Jiakun.

Ia menegaskan bahwa China akan terus berkoordinasi dengan komunitas internasional dan memantau perkembangan wabah secara cermat guna memberikan dukungan sesuai kebutuhan negara-negara Afrika.

"China dan Afrika selalu menjadi saudara dan mitra yang berbagi satu masa depan bersama dan selalu saling mendukung di saat-saat sulit. Selama bertahun-tahun, China telah memberikan bantuan yang kuat kepada Afrika dalam memerangi Ebola," ungkap Guo Jiakun.

Di sisi lain, Menteri Kesehatan DRC Roger Kamba mengatakan upaya pengendalian wabah terus dilakukan di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Meski jumlah pasien yang sembuh terus bertambah, tingkat pelacakan kontak menunjukkan penurunan sehingga tetap menjadi tantangan dalam pengendalian wabah.

Sedikitnya 100 pasien telah dinyatakan sembuh, sementara 365 pasien lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.

Pekan lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika memperingatkan bahwa wabah saat ini berpotensi berkembang menjadi lebih buruk jika penularan tidak segera dikendalikan. Lembaga tersebut membandingkan ancaman yang ada dengan epidemi Ebola Afrika Barat pada 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Meski demikian, Kamba mengatakan pemerintah terus memperkuat komunikasi kepada masyarakat, meningkatkan kapasitas diagnosis, dan mempercepat penanganan kasus untuk menekan laju penyebaran penyakit.

Sementara itu, penelitian terbaru memberikan petunjuk baru mengenai asal-usul wabah. Para ilmuwan dari Departemen Laboratorium Kesehatan Nasional dan Layanan Diagnostik Kementerian Kesehatan Uganda serta Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo menyatakan bahwa galur yang saat ini beredar, yakni Ebola Bundibugyo, berasal dari penularan baru yang bersumber dari satwa liar.

Temuan tersebut menepis dugaan bahwa wabah saat ini berasal dari rantai penularan lama yang tersembunyi atau terus menyebar tanpa terdeteksi.

Kekhawatiran terhadap penyebaran lintas negara juga mulai muncul. Kementerian Kesehatan Israel melaporkan kasus suspek Ebola kedua yang melibatkan seorang warga yang baru kembali dari DRC.

Pemeriksaan laboratorium terhadap kasus tersebut masih berlangsung dan hasilnya diperkirakan akan keluar dalam beberapa hari ke depan.

Pasien tersebut telah ditempatkan dalam isolasi sesuai protokol penanganan penyakit menular berbahaya dan menjalani pemeriksaan di Sheba Tel Hashomer Medical Center, rumah sakit rujukan untuk kasus serupa.

Sehari sebelumnya, kasus suspek Ebola pertama dilaporkan oleh Israel.

Baca juga: Kasus Ebola di Kongo tembus 1.000, korban tewas 254

Baca juga: Israel laporkan kasus kedua suspek Ebola

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |