Guadalajara (ANTARA) - Roberto Guerrero masih terkejut saat mengenang panggilan telepon yang mengubah hidupnya.
Dia telah menghabiskan waktu 15 tahun sebagai penyiar pertandingan sepak bola di radio, mulai dari lapangan-lapangan lokal yang sederhana hingga laga divisi pertama, saat dirinya diberi tahu bahwa dia akan berangkat ke ajang Piala Dunia 1966 di Inggris.
"Saya hampir pingsan," ujarnya sambil tertawa dalam sesi wawancara dengan Xinhua. Bagi seorang komentator muda asal Meksiko saat itu, meliput Piala Dunia terasa seperti mimpi yang mustahil.
Enam dekade usai turnamen pertamanya, impian itu telah menjadi karier yang hanya sedikit orang mampu menandinginya.
Pada usia 90 tahun, Guerrero menjalani Piala Dunia 2026 sebagai satu-satunya jurnalis Meksiko yang telah menjadi komentator dalam 15 edisi turnamen tersebut, rekor yang mengukuhkan posisinya di jajaran penyiar olahraga paling berpengalaman dengan masa bakti terlama di Amerika Latin.
Kisahnya berkelindan erat dengan evolusi dunia sepak bola dan media. Saat Guerrero meliput Piala Dunia pertamanya, siaran pertandingan bahkan baru dapat dinikmati di Meksiko beberapa jam setelah laga usai.
Kala itu, rekaman gambar dikirim dari Inggris ke New York, kemudian diteruskan ke Meksiko untuk ditayangkan melalui pita video pada malam hari. Kini, jutaan penggemar dapat menyaksikan pertandingan secara langsung melalui ponsel pintar dan platform digital.
"Piala Dunia 1970 benar-benar sensasional," ujar Guerrero, mengenang ajang Piala Dunia pertama yang digelar di Meksiko. Turnamen saat itu hanya diikuti oleh 16 tim, dan Brasil, yang dipimpin oleh Pele, menyulut kekaguman mendalam yang selamanya membentuk ikatan antara Guadalajara di Negara Bagian Jalisco, Meksiko barat, dengan sepak bola Brasil.
Bagi Guerrero, perbedaan di antara tiga edisi Piala Dunia yang digelar di Meksiko, yaitu pada 1970, 1986, dan 2026, turut mencerminkan transformasi yang dialami oleh negara tersebut beserta para penggemarnya.
Piala Dunia Meksiko 1970 merupakan kebaruan yang tiada duanya karena menjadi ajang Piala Dunia pertama yang disiarkan dalam format berwarna. Piala Dunia Meksiko 1986 hadir dengan budaya sepak bola yang jauh lebih mengakar. Turnamen Piala Dunia kali ini dirasakan dalam skala global, yang didorong oleh teknologi, ekspansi komersial olahraga tersebut, serta para penggemar yang terus memandang sepak bola sebagai perwujudan dari identitas nasional.
"Sepak bola, yang lahir di Inggris, telah mengantongi status 'naturalisasi' di Meksiko, dan kami merasakannya sebagai bagian dari diri kami sendiri, sesuatu yang terasa Meksiko," tutur Guerrero.
"Sepak bola merambah ke setiap sudut Meksiko. Olahraga itu adalah olahraga utama kami yang tak terbantahkan. Sepak bola dihidupi dan dirasakan. Ada semangat, kesetiaan pada satu tim, kecintaan mendalam terhadap tim lain, argumen, serta dunia jurnalisme sepak bola yang sangat luas," urainya.
Lahir di Michoacan, Meksiko barat, pada 1936, Guerrero mengawali kariernya di dunia jurnalisme olahraga secara tak sengaja. Saat bekerja di sebuah stasiun radio setempat, dia mengambil alih mikrofon untuk menggantikan seorang komentator yang berhalangan hadir.
Peluang tak terduga tersebut menjadi batu loncatan bagi karier yang membawanya berada di lingkaran figur-figur paling ikonis dalam dunia olahraga itu, menyaksikan kejeniusan Pele dan pemain Argentina Diego Armando Maradona, serta menjadi tokoh acuan dalam bidang penyiaran sepak bola Meksiko.
Selama puluhan tahun, suaranya setia menemani para penggemar di Guadalajara saat mendukung klub-klub seperti Chivas, Atlas, dan Leones Negros. Namun, Piala Dunia tetap menjadi benang merah utama dari perjalanan kariernya yang dibangun di atas kedisiplinan dan konsistensi.
Kini, seiring keberhasilan Meksiko mengukir sejarah sebagai negara pertama yang menjadi tuan rumah dalam tiga edisi Piala Dunia, Guerrero menyaksikan turnamen kali ini dengan gejolak emosi yang mendalam.
Foto di buku yang memperlihatkan Guerrero dengan pemian sepak bola legendaris asal Brazil Pele. ANTARA/Xinhua/Miriam Jimenez/aa.Dia merupakan satu-satunya anggota yang tersisa dari jurnalis Meksiko yang meliput Piala Dunia 1970, sekaligus satu-satunya saksi hidup yang menyaksikan seluruh tiga edisi Piala Dunia yang digelar di tanah Meksiko.
Kendati demikian, dirinya memilih untuk tidak membahas rekor, melainkan ikatan emosional. Bagi dirinya, meliput sebuah gelaran Piala Dunia tetap menjadi sebuah kehormatan yang tiada tara.
"Sungguh sebuah kehormatan besar, tentu saja, dapat berada di Piala Dunia, mengomentarinya, memandu jalannya laga, menghidupi, merasakan, serta mengapresiasinya. Semua itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya," ujarnya.
Pada usia 90 tahun, Roberto Guerrero tetap menyaksikan sepak bola dengan antusiasme yang sama sebagaimana saat ia masih menjadi penyiar muda pada 1966.
Di tengah tumpukan memori, anekdot, serta hadirnya generasi baru yang bermimpi mengikuti jejaknya, Guerrero tetap teguh pada keyakinan yang selalu menuntun perjalanan profesionalnya bahwa sepak bola lebih dari sekadar tontonan. Sepak bola merupakan gairah yang mampu menyatukan kisah-kisah, era, dan seluruh generasi.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)











