Jejak Kumbang Pemakan Bangkai Ditemukan pada Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun

5 hours ago 4
Jejak Kumbang Pemakan Bangkai Ditemukan pada Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun Fosil Titanosaurus 70 Juta Tahun.(Dok. Earth.com)

JEJAK lubang gigitan kumbang pemakan bangkai ditemukan pada tulang dan pelindung kulit (osteoderm) titanosaurus yang berusia 70 juta tahun di situs fosil Lo Hueco, Cuenca, Spanyol. Penemuan ini mengubah pemahaman para ilmuwan mengenai proses pembentukan salah satu situs fosil Kapur Akhir paling penting di Eropa tersebut.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Earth-Science Reviews ini dipimpin oleh Profesor Zain Belaústegui dari Universitas Barcelona bersama para ahli dari National University of Distance Education serta entomolog forensik dari Universitas Alcalá. Dilansir dari Earth.com, situs Lo Hueco dikenal sebagai rumah bagi fosil dinosaurus sauropoda titanosaurus yang relatif utuh maupun sisa-sisa tulang yang terisolasi.

Temuan Lubang Bioerosi pada Pelindung Kulit

Tim peneliti berhasil mengidentifikasi struktur bioerosi, yaitu tanda yang ditinggalkan organisme pada tulang setelah suatu hewan mati. Meskipun tanda seperti ini pernah didokumentasikan pada fosil dinosaurus sebelumnya, studi terbaru ini menemukannya tidak hanya pada tulang biasa, tetapi juga untuk pertama kalinya pada bagian pelindung kulit titanosaurus yang dikenal sebagai osteoderm.

Pelindung kulit titanosaurus merupakan jaringan yang padat dan kaya akan mineral. Ditemukannya bekas galian serangga pada bagian ini memberikan dimensi baru tentang apa yang dapat diungkap oleh fosil-fosil tersebut.

Lubang-lubang spesifik yang ditemukan berbentuk setengah bola atau kantong, yang tergolong dalam kategori ichnogenus Cubiculum. Perbandingan dengan contoh modern menunjuk secara jelas pada kumbang dermestid sebagai pelakunya. Kumbang pemakan bangkai ini mengonsumsi jaringan hewan yang membusuk dan mampu melubangi tulang.

Waktu Pembentukan dan Bantahan Teori Penguburan Cepat

Eksperimen yang dilakukan pada larva kumbang modern Dermestes frischii—yang menghasilkan lubang dengan struktur serupa—menunjukkan bahwa tanda tersebut terbentuk setelah setidaknya 240 jam. Dalam kondisi alam liar, proses ini diperkirakan memakan waktu yang jauh lebih lama.

Waktu tersebut memberikan petunjuk penting mengenai apa yang terjadi setelah titanosaurus mati. Kerusakan akibat serangga yang terawetkan pada berbagai jenis fosil tulang memberikan petunjuk berharga tentang bagaimana sisa-sisa tubuh hewan terurai dan terawetkan setelah kematian.

Sebelumnya, para peneliti menyimpulkan bahwa bangkai titanosaurus di Lo Hueco terkubur dengan cepat oleh endapan sedimen yang melindunginya dari gangguan permukaan. Namun, teori tersebut terbantahkan karena serangga tidak mungkin melubangi bangkai yang sudah tertimbun di dalam tanah.

Bangkai Dinosaurus sebagai Ekosistem Purba

Karena titanosaurus merupakan hewan berukuran sangat besar, bangkai mereka menjadi sumber daya melimpah bagi organisme pemakan bangkai. Komunitas pemakan bangkai di situs tersebut memiliki waktu yang cukup untuk mengurai bangkai raksasa ini sebelum akhirnya tertimbun sedimen.

Hal ini memicu pertanyaan tentang apakah bangkai vertebrata besar dapat menyokong seluruh komunitas pemakan bangkai, baik nekrofag (pemakan jaringan segar) maupun saprofag (pemakan sisa pembusukan), dalam jangka waktu yang relatif lama.

“Jika sisa-sisa rangka memfosil dengan jejak bioerosi, hal itu bisa sangat indikatif mengenai kondisi lingkungan purba tertentu,” ujar Belaústegui.

Dengan kata lain, ada atau tidaknya galian serangga dalam kumpulan fosil bukan sekadar hal yang unik, melainkan alat diagnosis penting untuk merekonstruksi lingkungan purba yang tidak bisa diungkap oleh bukti lainnya. Penelitian di Lo Hueco ini menjadi sangat penting karena aktivitas kumbang 70 juta tahun lalu meninggalkan rekam jejak yang cukup presisi untuk memperbaiki pemahaman ilmuwan terhadap sebuah situs fosil secara keseluruhan. (Earth.com/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |