Oka Rusmini Mengubah Puisi Menjadi Ekshumasi Sejarah bagi Perempuan yang Terlupakan dalam Buku 'Kembang'.(Dok. Istimewa)
SASTRAWATI terkemuka Oka Rusmini kembali menggetarkan lanskap sastra Indonesia melalui karya terbarunya berjudul Kembang (Gramedia Pustaka Utama, 2026). Buku ini bukan sekadar koleksi puisi biasa, melainkan penanda fase pendewasaan estetik sekaligus politis bagi penulis yang telah empat dekade konsisten membongkar konstruksi adat dan patriarki. Dalam Kembang, Oka tidak lagi melontarkan kritik secara lantang seperti pada karya-karya sebelumnya; ia memilih untuk "berbisik" di dapur dan lorong sejarah, menggali jasad ingatan perempuan yang selama ini terkubur oleh kuasa politik, agama, dan tradisi.
Mirna Yulistianti, editor senior Gramedia Pustaka Utama, menilai Kembang sebagai sebuah pencapaian yang sangat arsitektural. Menurutnya, Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa yang efisien, fondasi mitologi-budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsional.
Alih-alih mengandalkan luapan emosi yang cair, Oka menyusun puisi melalui konstruksi yang rigid dan terukur. Setiap kata berfungsi sebagai pilar atau sekat untuk menciptakan ruang politis yang tajam. Dengan presisi matematis, Oka mendesain bangunan makna yang stabil dan memiliki beban naratif mendalam bagi pengungkapan pengalaman perempuan penyintas peristiwa 1965.
Dari Gugatan Sosial ke Pengarsipan Ingatan
Jika karya-karya terdahulu Oka Rusmini bertumpu pada konflik terbuka dan pemberontakan terhadap adat serta norma sosial—seperti dalam Tarian Bumi (2000), Kenanga (2003), hingga Jerum (2020)—buku Kembang mengambil jalan yang lebih sunyi. Buku ini adalah hasil dari proses "ekshumasi" atau penggalian kembali trauma sejarah, khususnya tragedi 1965, yang diendapkan dalam tubuh perempuan.
Oka memandang sejarah Indonesia sebagai ruang patriarkis di mana pengalaman perempuan sering kali dihilangkan dari catatan resmi. Melalui pendekatan mikrosejarah (microhistory) yang intim, Oka menjahit fragmen keseharian para penyintas menjadi narasi puitis yang viseral. Fokus utamanya adalah sosok Kaminah dan Kusdalini, dua perempuan yang hidupnya terenggut oleh pusaran sejarah.
Inspirasi Kreatif: Proses penulisan Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah, yang merekam keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018) di Solo. Selain itu, risetnya didukung oleh dokumenter A Secret Love, buku foto Pemenang Kehidupan, serta berbagai literatur akademik.
Trauma Berlapis dan Politik Bertahan Hidup
Oka menyoroti perbedaan mendasar antara penyintas laki-laki dan perempuan. Jika laki-laki umumnya mengalami represi politik dan fisik, perempuan penyintas menghadapi trauma berlapis: penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual. Bagi mereka, membicarakan tahun 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat.
Beban moralitas yang dikonstruksi masyarakat memaksa mereka bergeser ke ranah domestik. Memastikan keluarga mendapatkan pendidikan dan identitas yang "aman" dari stigma menjadi bentuk politik bertahan hidup yang paling nyata. Dalam konteks ini, diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun kembali.
"Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," ungkap Oka Rusmini.Estetika "Mistisisme-Domestik" dan Strategi Bentuk
Secara estetik, Kembang menawarkan langgam baru yang dinamai Oka sebagai "Mistisisme-Domestik". Gaya ini mengawinkan diksi arkaik yang magis, peribahasa usang, dan rima berakhiran digraf /ng/ dengan realitas ruang domestik yang amis sekaligus brutal.
Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga (kenanga, melati, mawar) dengan anyir darah, bau ompol, kesepian, hingga aroma soto panas. Peleburan ini dirancang untuk memicu guncangan batin antara wangi keindahan dan maut. Selain itu, Oka menggunakan strategi dekonstruktif dengan tipografi huruf nonkapital (all-lowercase) secara menyeluruh. Keputusan ini merupakan taktik untuk memberikan ruang bagi aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jujur, telanjang, dan demokratis.
Makna di Balik Judul "Kembang"
Judul Kembang adalah sebuah ironi tajam. Sesuatu yang biasanya diidentikkan dengan kelembutan, di tangan Oka, bertransformasi menjadi simbol ketangguhan. Kembang adalah metafora bagi perempuan yang tetap tumbuh dan merekah di atas retakan sejarah yang kelam, meski dipaksa hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan identitas.
Profil Singkat Oka Rusmini
Lahir di Jakarta, 11 Juli 1967, dan kini bermukim di Denpasar, Bali, Oka Rusmini adalah sosok jurnalis dan sastrawati yang telah meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk The S.E.A. Write Award (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2014). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, mulai dari Inggris hingga Korea.
| 2000 | Tarian Bumi (Novel) |
| 2010 | Tempurung (Novel) |
| 2020 | Jerum (Kumpulan Puisi) |
| 2026 | Kembang (Kumpulan Puisi) |
Kesimpulan
Melalui Kembang, Oka Rusmini membuktikan bahwa sastra adalah instrumen keadilan. Di saat pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi kultural—sebuah ritual penyucian sejarah yang mengembalikan martabat penyintas 1965 di masa senja mereka. Karya ini menegaskan bahwa keberhasilan sastra diukur dari kemampuannya merawat luka dan memastikan martabat kemanusiaan tetap bernapas di atas tanah yang bergelimang trauma. (OL/I-1)
FAQ Operasional Buku Kembang
- Kapan buku Kembang diterbitkan? Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2026.
- Apa tema utama buku ini? Pengarsipan ingatan perempuan penyintas tragedi 1965 melalui pendekatan mikrosejarah dan estetika domestik.
- Apa yang dimaksud dengan Mistisisme-Domestik? Gaya penulisan yang memadukan diksi magis/arkaik dengan realitas keseharian rumah tangga yang mentah dan brutal.

















































