Mahasiswa UGM Teliti Biji Pepaya dan Carica untuk Atasi Cacing Hati Sapi

4 hours ago 2
Mahasiswa UGM Teliti Biji Pepaya dan Carica untuk Atasi Cacing Hati Sapi Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 melakukan inovasi dengan memanfaatkan limbah biji buah-buahan.(MI/HO)

INFEKSI cacing hati atau fasciolosis masih menjadi ancaman serius bagi sektor peternakan di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh parasit Fasciola sp. ini tidak hanya menurunkan produktivitas ternak, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi karena organ hati sapi sering kali harus diafkir atau dibuang saat pemeriksaan pascapemotongan.

Kondisi ini diperparah dengan sifat zoonotik parasit tersebut, yang berarti dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan yang terkontaminasi metaserkaria.

Menanggapi tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 melakukan inovasi dengan memanfaatkan limbah biji buah-buahan.

Tim yang menamakan diri mereka FASCIORICA ini mengembangkan penelitian pemanfaatan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) dan carica (Vasconcellea pubescens) sebagai kandidat agen ovisidal (pembasmi telur) alami terhadap telur Fasciola sp.

Kolaborasi Lintas Disiplin

Di bawah bimbingan Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, tim ini terdiri dari lima mahasiswa angkatan 2024 dengan latar belakang keilmuan yang beragam:

  • Nabila Hanifa Putri (Fakultas Kedokteran Hewan) - Ketua Tim
  • Annisa Azka Nadine Wiseman (Fakultas Biologi)
  • Fitriana Tsabita Utami (Fakultas Kimia)
  • Aulia Tamara Jannati (Program Studi Gizi)
  • Putri Lala Kirana (Pengembangan Produk Agroindustri)

Ketua Tim, Nabila Hanifa Putri, menjelaskan bahwa pemilihan biji pepaya dan carica didasari oleh ketersediaannya yang melimpah sebagai sisa pengolahan buah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, keduanya mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi menghambat perkembangan parasit.

"Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit," ujar Nabila di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).

Uji Efektivitas Ekstrak

Penelitian ini bermula dari keprihatinan atas tingginya prevalensi fasciolosis. Di wilayah Sleman, DIY, tercatat angka kejadian pada sapi mencapai 47,2%. Selama ini, peternak sangat bergantung pada obat antiparasit sintetis yang berisiko menimbulkan resistensi.

Dalam eksperimennya, tim mengambil biji pepaya dari Sleman dan biji carica dari Wonosobo. Keduanya diolah menjadi ekstrak dan diuji terhadap telur Fasciola sp. melalui berbagai konsentrasi dan kombinasi.

Parameter Pengamatan Hasil Temuan
Perubahan Morfologi Kerusakan dinding telur, perubahan bentuk, dan keluarnya isi telur.
Mortalitas (48 Jam) Meningkat signifikan, mencapai 50–65% pada perlakuan kombinasi.
Kecepatan Reaksi (24 Jam) Ekstrak carica menunjukkan efek ovisidal lebih cepat dibanding pepaya.
Signifikansi Statistik Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan (p<0,05).

Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi kedua ekstrak tersebut memiliki potensi kuat sebagai agen ovisidal terhadap telur Fasciola gigantica. Kerusakan fisik pada telur memastikan parasit tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi stadium infektif.

Tim FASCIORICA berharap temuan ini dapat menjadi alternatif berkelanjutan dalam pengendalian parasit di sektor peternakan.

"Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi alternatif pengendalian parasit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah," pungkas Nabila.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |