DI era digital, anak kian akrab dengan gawai. Waktu screentime yang cukup lama, menjadi tantangan bagi orang tua maupun guru dalam hal pendidikan. Anak menjadi kurang fokus dan terbiasa dengan visual. Sebab itu, dibutuhkan cara baru agar menarik minat anak belajar.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati mengatakan screentime yang panjang pada anak berpengaruh pada cara mereka memandang proses belajar. Misalnya ketika bermain gawai terasa menyenangkan, sedangkan ketika belajar di kelas atau di rumah sering kali dianggap membosankan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Kalau mereka main HP asik, belajarnya gak asik, itu menjadi PR," ujarnya saat peluncuran OREO Berbagi Seru, di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
Menurutnya, pendekatan belajar pun perlu menyesuaikan, menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Terlebih paparan screentime yang lama menyebabkan rentang fokus pendek, membutuhkan metode belajar yang membuat anak ikut aktif terlibat.
Pendekatan belajar yang berbeda
Hal senada juga diungkapkan psikolog anak, Irma Gustiana. Ia menilai bahwa anak generasi sekarang lahir di era digital sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Meski materi dasarnya tetap penting, namun cara menyampaikannya perlu disesuaikan.
Menurut Irma, metode belajar sambil bermain efektif karena membuat anak berada dalam kondisi rileks. Saat rileks, anak lebih mudah menerima informasi dan terdorong mengulang pengalaman belajar tersebut. “Kalau anak rileks, belajarnya fun, informasi yang diterima lebih cepat diserap anak,” katanya.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati (tengah) ketika memeragakan alat belajar interaktif Oreo Berbagi Seru, di Jakarta, 22 April 2026. Tempo/Yunia Pratiwi
Tak hanya pada kemampuan akademik, belajar sambil bermain juga membantu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak merasa mampu menyelesaikan tantangan, menemukan strategi, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Termasuk perkembangan sosial dan emosional. Anak belajar bekerja sama, menunggu giliran, menyelesaikan masalah, hingga mengelola emosi.
Ia menilai anak-anak masa perlu dibentuk menjadi generasi yang solutif, eksploratif, responsif, dan unggul. Solutif berarti mampu mencari banyak jalan keluar atas masalah. Eksploratif artinya berani bertanya dan mencoba hal baru. Responsif berarti adaptif terhadap perubahan yang cepat. Sedangkan unggul tak hanya soal nilai akademik, tetapi juga kecerdasan sosial dan emosional.
Keterlibatan pihak terkait
Sementara itu, Rita menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya dibebankan pada sekolah saja. Anak lebih banyak berada di rumah, sehingga orang tua punya peran besar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. "Kalau di rumah tidak memberi suasana yang menyenangkan agar mereka belajar, itu juga ada potensi kegagalan,” ujarnya.
Ia mengutip Data Program for International Student Assessment 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 80 negara di dunia dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains. Untuk itu, pemerintah terus mendorong pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk orang tua dan guru. Salah satunya melalui program tersebut yang menghadirkan alat belajar interaktif bertema literasi, numerasi, sains dan bahasa Inggris.

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)