Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio di acara The People’s Choice 2026 by Golden Property Awards di Jakarta, Senin (10/8/2026).(Dok. MI)
PEMERINTAH menilai sektor properti masih memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian nasional karena aktivitasnya terhubung dengan sekitar 183 subsektor industri, mulai dari semen, baja, keramik, kaca, hingga perbankan dan pembiayaan perumahan.
Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio, mengatakan besarnya keterkaitan tersebut membuat pertumbuhan industri properti memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja.
“Sektor properti memiliki efek berganda yang sangat luas terhadap perekonomian. Ekosistemnya melibatkan sekitar 183 subsektor, mulai dari industri semen, baja, keramik, kaca, hingga perbankan lewat pembiayaan KPR. Karena itu, penguatan sektor properti juga berarti memperkuat aktivitas ekonomi dan rantai pasok domestik,” kata Pujo dalam The People’s Choice 2026 by Golden Property Awards di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, sektor real estat dan konstruksi secara akumulatif berkontribusi sekitar 9%-14% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap jutaan tenaga kerja.
Besarnya keterkaitan tersebut membuat kebijakan di sektor perumahan tidak hanya berpengaruh terhadap pengembang, tetapi juga dapat merambat ke industri material bangunan, jasa konstruksi, sektor keuangan, hingga konsumsi rumah tangga.
Pemerintah saat ini menggunakan sejumlah instrumen untuk menjaga permintaan properti, antara lain insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah, serta kebijakan loan to value (LTV) kredit dan pembiayaan properti hingga 100%.
Kebijakan LTV hingga 100% untuk kredit atau pembiayaan properti tersebut diperpanjang hingga 31 Desember 2026.
Namun, menurut Pujo, penguatan permintaan perlu diikuti peningkatan penggunaan produk dalam negeri agar pertumbuhan sektor properti memberi dampak lebih besar terhadap industri nasional.
Pengembangan kawasan hunian ke depan juga dinilai perlu semakin terintegrasi dengan infrastruktur energi dan berbagai fasilitas pendukung sehingga pertumbuhan properti ikut mendorong terbentuknya rantai pasok domestik yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Konsumen Properti Makin Selektif
Di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli, perilaku konsumen properti juga menunjukkan perubahan. Konsumen dinilai semakin mempertimbangkan kualitas produk, rekam jejak pengembang, fasilitas kawasan hingga potensi nilai investasi sebelum membeli hunian.
Indikasi tersebut salah satunya terlihat dari pemungutan suara The People’s Choice 2026 yang digelar Rumah123 bersama Indonesia Property Watch (IPW).
Sebanyak 111 ribu konsumen berpartisipasi dengan total sekitar 427 ribu suara untuk menentukan pilihan terhadap proyek perumahan, desain hunian, perangkat rumah tangga, material bangunan hingga infrastruktur pendukung.
Dengan jumlah tersebut, setiap peserta rata-rata memberikan suara pada tiga hingga empat kategori.
CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan pola tersebut memperlihatkan konsumen tidak lagi hanya menjadikan popularitas merek sebagai pertimbangan ketika memilih produk properti.
“Konsumen hari ini tidak lagi terbujuk popularitas atau promosi masif. Mereka memperhitungkan rekam jejak, kualitas eksekusi, sampai nilai investasi jangka panjang,” ujar Ali.
Perubahan perilaku tersebut menjadi tantangan bagi pengembang karena persaingan tidak lagi hanya berlangsung dalam aspek harga dan lokasi. Kualitas material, desain rumah, fasilitas kawasan serta layanan pembiayaan semakin menjadi bagian dari pertimbangan konsumen.
Diskusi yang melibatkan pelaku industri material bangunan dan energi dalam acara tersebut juga menyoroti semakin luasnya faktor yang menentukan daya tarik sebuah kawasan hunian, mulai dari kualitas konstruksi dan perangkat rumah hingga ketersediaan fasilitas penunjang aktivitas sehari-hari.
Senior Commercial Advisor Rumah123 Maria Herawati Manik mengatakan tingginya partisipasi dalam pemungutan suara juga memperlihatkan konsumen semakin aktif memberikan penilaian terhadap merek yang berkaitan dengan proses kepemilikan maupun penggunaan rumah.
“Setiap bulan ada jutaan orang yang membuka Rumah123 untuk mencari rumah, menghitung kemampuan KPR hingga mengajukan KPR. Tembusnya angka 427 ribu suara merupakan sinyal kuat bahwa masyarakat Indonesia semakin proaktif mengawal brand yang menemani perjalanan kepemilikan dan penghunian rumah mereka,” katanya.
Persaingan tak hanya antar-Pengembang
Perubahan karakter konsumen tersebut membuat kompetisi di sektor properti semakin meluas. Bukan hanya antarproyek perumahan, persaingan juga terjadi di antara produsen semen, cat, sanitaryware, perangkat rumah pintar, sistem kelistrikan hingga penyedia infrastruktur pengisian kendaraan listrik.
Dalam The People’s Choice 2026, sebanyak 55 penghargaan diberikan pada delapan kategori utama dan sejumlah kategori khusus berdasarkan hasil pemungutan suara konsumen.
Ciputra Group memperoleh predikat Developer of The Year, sementara Grand Wisata menjadi Project of The Year. Pada sektor pembiayaan, balé by BTN mendapat penghargaan Best Digital Mortgage Super Apps.
Penghargaan lainnya mencakup proyek perumahan dari berbagai wilayah serta merek industri pendukung, mulai dari bahan bangunan, peralatan rumah tangga hingga solusi pengisian kendaraan listrik.
CEO 99 Group Darius Cheung menilai meningkatnya keterlibatan konsumen menunjukkan standar persaingan industri properti semakin banyak ditentukan oleh pengalaman dan penilaian pengguna akhir.
“The People’s Choice 2026 bukan sekadar penganugerahan, melainkan penegasan atas standar baru pasar properti Indonesia,” katanya.
Dengan besarnya keterkaitan properti terhadap sektor industri lain, kemampuan pengembang mempertahankan permintaan konsumen sekaligus meningkatkan penggunaan produk domestik akan menjadi salah satu faktor penting bagi besarnya dampak sektor tersebut terhadap perekonomian nasional. (Z-10)


















































