Ilustrasi(Istimewa)
ADA pemandangan menarik yang terlihat di studio Solska siang itu. Saat seorang pengunjung menyerahkan sepatu larinya, petugas di meja depan tidak langsung mencucinya. Mereka memotret sepatu tersebut dari beberapa sisi terlebih dahulu sebelum menuliskan catatan kondisinya secara detail sebuah proses serah terima barang yang rapi dan bukan sekadar formalitas.
Studio perawatan sepatu (shoe care) ini baru saja diperkenalkan di Depok, Jawa Barat. Solska merupakan brand di bawah naungan PT Tidak Harus Begitu, perusahaan yang didirikan oleh Marvin Jupiter Walukow usai sebelumnya berkarier di dunia korporasi dan industri keuangan.
Di tengah maraknya jasa cuci sepatu konvensional, Marvin tidak sepakat jika tempatnya hanya disebut sebagai 'tempat cuci sepatu'. Bukan karena istilahnya salah, melainkan karena menurutnya istilah tersebut memotong terlalu banyak esensi dari pelayanannya.
"Cuci itu (hanya) satu langkah dari sekian banyak langkah," ungkap Marvin.
"Yang sebenarnya kami urus itu kualitas treatment-nya, hasil akhirnya, pengalaman pelanggannya, dan konsistensinya. Yang terakhir itu yang paling berat," lanjut dia.
Edukasi Lewat Ekosistem Olahraga Solska menaruh perhatian khusus pada sepatu olahraga. Alasannya mudah dipahami bagi siapa pun yang punya kebiasaan bermain padel atau tenis selama dua jam, lalu memasukkan sepatunya begitu saja ke dalam tas.
"Kalau seseorang rutin berolahraga, sepatu itu alat kerja," kata Marvin.
"Alat kerja itu dirawat, bukan dipakai sampai rusak lalu diganti," tambah dia.
Menyadari hal ini, alih-alih pasif menunggu orang membawa sepatunya ke outlet, Solska memilih strategi jemput bola. Mereka ingin membangun jaringan dengan komunitas tenis, padel, basket, dan futsal, serta pengelola venue olahraga, agar bisa berada lebih dekat dengan tempat sepatu itu dipakai.
Filosofi 'Tidak Harus Begitu' Keputusan memulai bisnis dari Depok juga dinilai strategis. Menurut Marvin, warga urban di kawasan tersebut memiliki karakter yang menjadi sasaran Solska: peduli pada penampilan, aktif berolahraga, dan makin memperhatikan kualitas barang yang dipakai sehari-hari.
Menariknya, ketika ditanya mengenai seberapa cepat ia ingin membuka cabang, jawaban Marvin justru menyoroti soal ritme bisnis. Nilai ini sejalan dengan nama perusahaan induknya, 'Tidak Harus Begitu', yang berangkat dari kebiasaannya mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah semestinya demikian.
"Menambah outlet itu bagian yang paling mudah. Yang sulit adalah membuat hasilnya sama di semua tempat," katanya.
"Saya lebih memilih tumbuh lebih pelan asalkan standarnya terjaga," sambung dia.
Pengalaman panjang di dunia korporasi diakui Marvin menjadi bekal berharga; ia menolak anggapan bahwa keputusannya keluar dari korporasi adalah bentuk pelarian. "Banyak hal yang saya pakai (dalam bisnis) sekarang justru saya pelajari di sana," ujarnya.
Pada akhirnya, kehadiran Solska dengan kampanye Never Settle For Dirty bukan sekadar menawarkan sepatu yang kembali rapi, melainkan menawarkan cara yang berbeda dalam memperlakukan barang.
"Kami tidak sedang meminta orang repot," kata Marvin. "Kami hanya menawarkan pilihan. Barang yang dirawat biasanya bertahan lebih lama". (E-4)







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)
