Ada Peluang 27 Persen MSCI Turunkan Status Bursa Saham RI

3 hours ago 2

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menyatakan ada peluang lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), menurunkan status bursa saham Indonesia ke frontier market. Meski demikian peluangnya hanya kecil.

Penilaian MSCI sempat menimbulkan kekhawatiran pasar saham RI turun peringkat dari pasar berkembang atau emerging market ke frontier market. “Jadi, peluang kita hanya 27 persen. Menurut saya, peluangnya sangat kecil,” ucap Shim dalam acara Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta pada Jumat, 3 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Proyeksi itu mengacu pada data platform prediksi pasar global, Polymarket. Meski demikian, secara pribadi, ia berpendapat bahwa kemungkinan persentase peluangnya bisa lebih kecil lagi. “Saya kira, probabilitas Indonesia diturunkan statusnya menjadi frontier market kurang dari 10 persen, tepatnya 9 persen, dan masalah terkait MSCI sudah ditangani dengan baik,” kata dia.

Sebelumnya dalam Market Classification Review yang dirilis 24 Juni 2026, MSCI memutuskan status bursa saham Indonesia tetap di level emerging market. Meski demikian, MSCI memberi tenggat waktu tinjauan penilaian sampai November 2026 sebelum mengambil keputusan selanjutnya.

Masalah transparansi kepemilikan saham RI memang telah jadi sorotan lembaga global tersebut dan sempat menyebabkan MSCI memberikan peringatan awal dengan pembekuan sementara penilaian indeks saham RI.

Menurut Shim, penilaian MSCI terhadap Indonesia terlalu keras. Sebab rilis pada Juni menunjukkan bahwa penilaian belum sepenuhnya aman. Padahal pemerintah Indonesia dan Self Regulatory Organization (SRO) telah berupaya melakukan reformasi pasar modal. Di antaranya merilis ketentuan pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1 persen, hingga menetapkan aturan batas minimum free float saham menjadi minimal 15 persen.

Batas minimal persentase saham beredar atau free float itu pun menurut Shim terlalu tinggi. Ia membandingkan dengan perusahaan milik Elon Musk, Space X, yang hanya memberi 3 persen dari total sahamnya kepada publik. “Free float-nya cuma 3 persen. Apakah SpaceX milik Elon Musk akan tercatat di Indonesia? Eggak mungkin, kan? karena batas minimum kita 15 persen,” ucapnya.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjanji untuk memperkuat reformasi pasar modal sebagai tindak lanjut atas hasil tinjauan MSCI. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menghargai keputusan MSCI untuk tetap mengawasi dan menilai agenda reformasi pasar modal Indonesia.

Hasan mengatakan OJK dan SRO pasar modal akan terus mengkomunikasikan upaya reformasi kepada lembaga penyedia indeks global serta investor. “Kami meyakini pasar modal Indonesia masih sangat prospektif dan menarik, baik bagi investor domestik maupun global. Hal ini didukung oleh fundamental perekonomian domestik yang terjaga, basis investor yang terus bertumbuh, valuasi saham yang kompetitif, dan kinerja fundamental emiten yang secara umum masih sangat positif,” ujarnya.

Anastasya Lavenia berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |