Jakarta, CNN Indonesia --
Empat negara mayoritas Muslim disebut berpotensi membentuk aliansi pertahanan seperti Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pakar menyebut potensi pembentukan ini muncul karena ada ancaman serangan dari Israel seperti yang pernah terjadi di Doha, Qatar, September 2025 lalu.
Empat negara itu adalah Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi.
Wacana terbentuknya poros pertahanan baru ini menguat setelah Mesir dan Pakistan kembali menggelar latihan militer gabungan selama dua pekan di Pakistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Latihan tersebut dinilai bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari konsolidasi kemampuan pasukan tempur khusus di antara empat negara tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, keempatnya juga dilaporkan makin intens berkoordinasi dalam isu keamanan dan pertahanan kawasan seiring dengan adanya serangan Israel.
Jika Qatar bisa diserang, hal serupa juga bisa terjadi ke negara-negara timur tengah yang lain.
Serangan itu membuat banyak negara Arab mempertanyakan kembali efektivitas payung keamanan eksternal yang selama ini mereka andalkan.
"Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab, terutama di wilayah Teluk, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel," kata analis politik independen Mesir Islam Mansi kepada The New Arab
Situasi makin berubah setelah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Konflik itu memunculkan kekhawatiran baru di ibu kota-ibu kota regional bahwa Israel kini semakin leluasa menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan geopolitiknya.
Selain ancaman perang langsung, negara-negara Teluk juga mencermati isu pencaplokan Tepi Barat, dorongan pembangunan kembali permukiman Israel di Gaza, hingga operasi militer di Lebanon dan Suriah yang memunculkan kekhawatiran soal meluasnya proyek 'Israel Raya'.
Dalam konteks itulah Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi mulai dipandang sebagai kuartet dengan modal strategis paling realistis untuk membangun sistem pertahanan bersama.
Pakistan memiliki kekuatan militer besar dan kemampuan nuklir. Turki unggul dalam industri pertahanan serta pengalaman tempur lintas kawasan.
Mesir memegang posisi strategis Terusan Suez dan salah satu militer terbesar di Afrika-Arab. Sementara Arab Saudi memiliki kapasitas pendanaan serta pengaruh politik di kawasan Teluk.
"Aliansi yang sama dapat mengerem ambisi regional Israel," kata analis politik Saudi Omar Saif.
Menurut dia, gabungan empat negara tersebut memiliki bobot unik karena tidak hanya menyatukan jumlah pasukan, tetapi juga menyatukan akses geostrategis dari Asia Selatan, Mediterania, Laut Merah, hingga Teluk.
Menteri luar negeri keempat negara itu juga tercatat menggelar pertemuan terbaru pada 17 April di sela Forum Diplomasi Antalya di Turki. Dalam pertemuan tersebut, Mesir mengakui pihaknya tengah bekerja sama dengan tiga negara lain untuk membahas pengaturan keamanan regional pascaperang.
Selain jalur diplomatik, empat negara ini sebelumnya juga berperan dalam pembicaraan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, memperlihatkan bahwa koordinasi mereka tak lagi sebatas isu bilateral.
Jika benar terbentuk, blok ini akan memiliki gabungan populasi sekitar 500 juta jiwa dengan produk domestik bruto mencapai US$3,87 triliun.
Angka tersebut menjadikannya salah satu poros kekuatan terbesar di dunia Muslim, ditambah kepemilikan aset militer dan jalur perdagangan vital.
"Aliansi seperti itu akan menciptakan keseimbangan kekuatan yang sangat dibutuhkan kawasan ini," ujar Mansi.
Meski demikian, pembentukan aliansi formal masih menghadapi tantangan besar. Hubungan Turki dan Mesir baru pulih setelah lama tegang, demikian pula relasi Turki dan Arab Saudi yang sempat retak akibat kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
Selain itu, Arab Saudi dan Mesir masih memiliki kemitraan strategis pertahanan dengan AS, sehingga ruang gerak mereka untuk membangun blok militer independen anti-Israel dinilai tidak sepenuhnya leluasa.
Namun para analis menilai, meski belum tentu lahir sebagai pakta pertahanan resmi seperti NATO, harmonisasi empat negara Muslim ini sudah menunjukkan embrio terbentuknya poros keamanan baru di Timur Tengah.
Dengan kata lain, ketika ancaman Israel dinilai makin meluas dan payung keamanan lama dianggap tak lagi cukup, Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi kini mulai dipandang sebagai daftar negara Muslim yang paling berpotensi menyusun aliansi pertahanan bersama.
(del/sur)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
6







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)








