Danantara: GRC Harus Jadi Strategic Enabler Perusahaan

26 minutes ago 1
 GRC Harus Jadi Strategic Enabler Perusahaan Managing Director, Risk & Sustainability Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Effendi Hengki saat berbicara dalam TOP GRC Awards 2026, Rabu (9/9), di Jakarta.(Dok Istimewa)

Implementasi prinsip governance, risk, and compliance (GRC) tidak lagi cukup dipandang sebagai fungsi kepatuhan semata, tetapi harus menjadi strategic enabler dan instrumen penciptaan nilai bagi perusahaan.

“GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis,” kata Managing Director, Risk & Sustainability Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Effendi Hengki saat berbicara dalam TOP GRC Awards 2026, Rabu (9/9), di Jakarta.

Dengan pendekatan tersebut, lanjut Effendi, GRC pada akhirnya harus mampu mendukung terciptanya nilai perusahaan yang berkelanjutan. Di tengah risiko digital yang bergerak dalam hitungan menit, perusahaan juga perlu meninggalkan pola GRC yang bersifat “snapshot” atau sekadar sibuk ketika menjelang audit, menuju pendekatan continuous assurance.

Pengawasan dan pengujian control, lanjut Effendi, perlu berjalan secara terus-menerus dengan dukungan data real-time, otomatisasi, serta sistem yang terintegrasi. Transformasi ini tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi harus dibangun melalui tiga fondasi utama, yakni people & culture, process & control, serta technology.

“Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat,” kata Effendi.

TOP GRC Awards 2026 merupakan kegiatan penilaian, penghargaan, dan pembelajaran bersama di bidang GRC yang telah memasuki penyelenggaraan ke-8. Pada 2026, kegiatan ini mengusung tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC.”

Pembicara lainnya, Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) Mardiasmo, memaparkan tentang evolusi Pedoman Umum GCG Indonesia menuju empat pilar, yakni Perilaku Beretika, Transparansi, Akuntabilitas, dan Keberlanjutan (ETAK). Pesan pentingnya, penguatan governansi tidak berhenti pada kepatuhan dan kelengkapan struktur, tetapi harus tercermin pada perilaku etis, kualitas keputusan, perlindungan pemangku kepentingan, ketahanan, serta penciptaan nilai jangka panjang.

“Karena itu, perlu dirancang sejak purpose, strategi, risk appetite, dan alokasi sumber daya; sementara Intelligent GRC harus memperkuat akuntabilitas manusia, bukan menggantikannya,” kata Mardiasmo.

Terkait tema “Sustainability by Design”, lanjut Mardiasmo, perusahaan dituntut untuk menanamkan keberlanjutan dan aspek ESG secara fundamental ke dalam DNA bisnis inti sebagai katalis inovasi, bukan sekadar pelengkap pemenuhan regulasi. Untuk mengeksekusi visi ini, organisasi membutuhkan Intelligent GRC yang proaktif, integratif, dan berwawasan ke depan (forward-looking) guna menyeimbangkan kepatuhan dengan akselerasi bisnis.

Sejalan dengan upaya internalisasi GRC tersebut, KNKG tengah memutakhirkan Pedoman Umum Governansi Korporat Indonesia (PUG-KI) dengan menitikberatkan pada empat nilai dasar ETAK tersebut.

Pemutakhiran ini membawa perluasan strategis, seperti etika pemanfaatan AI pada aspek perilaku, outcome-based governance pada akuntabilitas, kewajiban pengungkapan isu keberlanjutan pada transparansi, serta integrasi aspek ESG (Environment, Social, Governance) hingga ke skema remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi.

“Perpaduan antara desain keberlanjutan dan kecerdasan eksekusi GRC ini akan membentuk ketahanan jangka panjang yang memastikan perusahaan tetap relevan dan dipercaya oleh pasar global,” kata Mardiasmo.

Sementara itu, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan Nur Rachmad membawa perspektif penguatan GRC dalam menjaga kredibilitas pengelolaan keuangan, akuntabilitas, pengendalian intern, dan transformasi digital.

Ia menekankan, GRC sebagai bagian dari keputusan strategis—strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance—perlu dibaca dalam satu kesatuan. Risk dashboard perlu berkembang dari sekadar reporting menuju early warning dan decision intelligence, sedangkan pemanfaatan data dan Artificial Intelligence harus dibangun di atas digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.

Sejumlah perusahaan yang memenangkan penghargaan ini di antaranya PT Pertamina Hulu Energi, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), PT Pertamina Gas (Pertagas), PT Jamkrida Jakarta, PT PLN Electricity Services, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), serta PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (X-6)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |