FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan alat bernama Gama Abilawa Portable Restraining Box. Alat ini dapat membantu warga memotong hewan kurban lebih praktis. Inovasi yang dikembangkan oleh tim dosen ini berupa sebuah kandang jepit, yang membantu merebahkan hewan kurban berukuran besar seperti sapi dengan lebih fleksibel.
Alat berbentuk persegi panjang ini dibuat menggunakan material pipa besi atau baja. Alat dilengkapi roda pada bagian bawahnya sehingga dapat dipindah-pindahkan dengan mudah ke berbagai lokasi. "Alat ini untuk memodernisasi sekaligus meningkatkan efisiensi dalam proses pemotongan ternak kurban, namun tetap mendukung penuh penegakan prinsip kesejahteraan hewan," kata Guru Besar di Fakultas Peternakan UGM sekaligus penggagas inovasi tersebut, Panjono, pada Senin, 18 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia menuturkan, alat tersebut dikembangkan sebagai terobosan untuk mengatasi berbagai persoalan mendasar ketika pemotongan ternak saat hari raya kurban, seperti yang akan datang pada 27 Mei mendatang. Mekanisme kerja alat ini dirancang agar sapi yang akan disembelih dapat digiring masuk ke dalam kotak dengan tenang tanpa memicu rasa takut atau stres.
Begitu tubuh sapi seutuhnya sudah berada di dalam kandang jepit persegi panjang tersebut, pintu pengaman akan langsung ditutup rapat. Setelah itu, kotak mekanis ini diputar secara manual oleh petugas sehingga posisi tubuh sapi secara otomatis miring dan siap untuk disembelih tanpa perlu ditarik, diseret, atau dijatuhkan secara paksa.
Berkat sistem mekanis ini, seluruh proses perebahan sapi yang biasanya berlangsung dramatis dapat diselesaikan secara kilat dengan waktu tidak lebih dari tiga menit saja. "Jadi prinsipnya alat ini untuk mempermudah penanganan ternak secara lebih aman dan 'manusiawi'," kata Panjono.
Panjono menekankan pentingnya mengubah praktik pemotongan sapi kurban masyarakat agar berjalan lebih baik guna menjamin kualitas daging yang dihasilkan serta menjaga keselamatan para petugas di lapangan. Dia mengungkapkan, sebagian besar aktivitas pemotongan sapi kurban oleh masyarakat selama ini masih dilakukan di luar fasilitas Tempat Pemotongan Hewan (TPH) ataupun Rumah Pemotongan Hewan (RPH) resmi.
Pemotongan mandiri ini umumnya memanfaatkan area terbuka di sekitar masjid atau permukiman warga dengan dukungan fasilitas dan peralatan yang sangat terbatas. Panjono memaklumi ketiadaan alat penunjang yang memadai di tingkat panitia masyarakat, mengingat kegiatan penyembelihan ini tidak dilakukan sepanjang tahun melainkan hanya setahun sekali. Sehingga dari segi ekonomi dinilai kurang efisien jika mereka harus membangun fasilitas permanen.
Namun, dampak dari keterbatasan fasilitas ini, menurut dia, terbilang cukup serius. Tanpa adanya alat bantu yang tepat, proses penanganan ternak sering kali dilakukan dengan metode yang kurang benar dan cenderung kasar, sehingga menyebabkan hewan mengalami tekanan fisik maupun psikis yang berat.
Dia menuturkan, stres dan kepanikan pada sapi kurban biasanya sudah mulai terpicu sejak tahapan awal, yakni saat proses penambatan, penggiringan menuju lokasi penyembelihan, hingga fase perebahan dan pengikatan kaki secara paksa sebelum disembelih. Perlakuan yang kasar tidak jarang memicu ternak mengamuk, mengalami luka fisik, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja bagi para petugas penyembelihan atau jagal.
Uji Coba dan Hasilnya
Panjono mengatakan keunggulan Gama Abilawa Portable Restraining Box terletak pada desainnya yang portabel. "Alat ini dirancang agar kompatibel dan mudah diaplikasikan di berbagai lokasi terpencil yang sama sekali tidak memiliki fasilitas TPH permanen," ujar dia sambil menambahkan fleksibilitas ini menjadikannya solusi ideal bagi takmir masjid, lembaga sosial, maupun panitia kurban di berbagai daerah.
Proses pengembangan prototipe alat disebutkannya telah dimulai sejak 2019. Pada hari raya Idul Adha 2020 silam, prototipe awal Gama Abilawa telah resmi diperkenalkan dan diuji coba secara langsung oleh petugas dan takmir masjid di Kampung Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Berangkat dari uji coba awal itu, tim dosen tersebut terus menyempurnakan aspek teknis alat, mengajukan hak paten resmi, serta memperluas sosialisasi penggunaannya kepada lembaga penyelenggara kurban lainnya di Indonesia. Hasilnya diklaim lompatan performa yang sangat signifikan.
Penggunaan alat ini tercatat mampu mempercepat total durasi proses pemotongan hewan hingga 52,5 persen jika dibandingkan dengan metode konvensional. Keuntungan ekonomis dan praktis lainnya adalah pengurangan jumlah tenaga kerja yang terlibat secara drastis.
Jika metode tradisional merobohkan sapi membutuhkan ikatan tali rumit dan tenaga kasar dari banyak orang yang berisiko tinggi cedera, dengan bantuan teknologi Gama Abilawa ini proses perebahan ternak cukup ditangani oleh sekitar lima personel saja dengan tingkat risiko yang sangat rendah. "Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging menjadi lebih terjamin," kata Panjono.
Menurutnya, menekan stres pada hewan pra-penyembelihan ini secara ilmiah terbukti mencegah penurunan kualitas daging, sehingga daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat tidak bertekstur keras atau berwarna gelap.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485282/original/038819000_1769501489-pikojerico-175__1_.jpg.jpeg)

