MAHKAMAH Pidana Internasional alias ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan rahasia kepada lima pejabat Israel. Seperti dilansir surat kabar Haaretz dan dikutip Anadolu pada Ahad, 17 Mei 2026, kelima pejabat itu terdiri dari tiga politisi dan dua personel militer.
Dokumen penangkapan ICC kepada lima penyelenggara negara Israel, dirilis ketika Mahkamah Internasional itu mengeluarkan surat yang sama pada November 2024. Saat itu, ICC merilis surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Mereka berdua diduga melakukan kejahatan perang dan pelanggaran Hak Asasi Manusia berat di Gaza, Palestina.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sejauh ini Mahkamah Internasional belum mengonfirmasi ihwal surat perintah penangkapan tersebut. Kendati demikian, jika laporan itu terverifikasi akan menambah sederet pelaku genosida menjadi tujuh orang terhadap penjajahan Palestina.
Surat Perintah Penangkapan Kepada Netanyahu dan Gallant
Pengadilan Pidana Internasional yang berlokasi di Den Haag, Belanda, pernah mengeluarkan surat serupa pada, 21 November 2024, atas kejahatan genosida yang dilakukan Israel antara 8 Oktober dan 20 Mei 2024. Majelis Pra-Persidangan mengklaim kedua pelaku sengaja menggunakan Starvation Method of Warfare dan melakukan pelanggaran HAM berat lainnya.
“Netanyahu dan Gallant dengan sengaja merampas barang-barang yang sangat penting bagi kelangsungan hidup penduduk sipil di Gaza, termasuk makanan, air, obat-obatan dan perlengkapan medis, serta bahan bakar dan listrik,” ujar Majelis Pengadilan Pidana Internasional, mengutip Turkiye Today.
Majelis ICC menyebutkan awalnya surat perintah tersebut bersifat rahasia guna melindungi saksi dan menjaga kelancaran penyelidikan. Kemudian, pihak majelis memutuskan mengumumkan surat perintah penangkapan ke publik karena menilai tindakan kejahatan perang terus dilakukan Israel. “Demi kepentingan para korban dan keluarga mereka,” kata ICC.
Menurut laporan yang diberitakan Turkiye Today, melalui juru bicara ICC, Oriane Maillet membantah klaim surat kabar Haaretz yang menyatakan bahwa Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan baru terhadap lima pejabat Israel. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa laporan yang diterbitkan media Israel itu tidak akurat.
“Pengadilan menolak penerbitan surat perintah penangkapan baru dalam situasi di negara Palestina,” kata Maillet.
Sebelumnya surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan Gallant yang dikeluarkan pengadilan pada 2024, baru dikonfirmasi setelah majelis memutuskan pengungkapan sebagian informasi itu bermanfaat bagi kepentingan korban meskipun berstatus rahasia.
Tak lama setelah menerima kunjungan kenegaraan Netanyahu, Hungaria kemudian mengumumkan penarikan diri dari Statuta Roma menyusul surat perintah penangkapan tahun 2024. Penarikan diri itu mulai berlaku satu tahun setelah pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Invasi otoritas Israel telah menewaskan lebih dari 72,000 orang sebagian besar anak-anak dan perempuan sejak dimulainya serangan perdana ke Gaza pada Oktober 2023. Meskipun di tengah gencatan senjata mulai berlaku 10 Oktober 2025, Israel terus menggempur wilayah otoritas Palestina. Serangan itu diperkirakan menewaskan lebih dari 870 orang dan melukai 2,540 orang, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485282/original/038819000_1769501489-pikojerico-175__1_.jpg.jpeg)

