PEMERINTAH Kuba menyatakan siap mempertahankan diri jika menghadapi kemungkinan invasi militer dari Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Kuba untuk Amerika Serikat Lianys Torres Rivera.
Menurut laporan The Hill, yang dipublikasikan pada Jumat, 15 Mei 2026, Torres Rivera mengatakan Kuba tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat. “Kami sedang bersiap untuk membela diri,” kata Torres Rivera.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun, ia menegaskan persiapan tersebut bukan untuk melakukan serangan lebih dulu terhadap Amerika Serikat.
“Cara kami bersiap bukan dengan cara ofensif. Kami tidak bersiap untuk menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan terhadap wilayah Amerika Serikat atau rakyat Amerika Serikat. Kami tidak menginginkan itu,” ujar dia.
Dilansir Anadolu, Torres Rivera kemudian memperingatkan bahwa kemungkinan invasi dapat berubah menjadi “pertumpahan darah”. Menurut dia, Kuba tidak ingin melihat warga Kuba tewas di negaranya sendiri maupun tentara Amerika Serikat menjadi korban.
Negosiasi Dinilai Tak Ada Kemajuan
Torres Rivera juga mengatakan hubungan Kuba dan Amerika Serikat saat ini sedang melalui “salah satu masa paling sulit, jika bukan yang paling sulit” dalam hubungan bilateral kedua negara.
Ia juga mengatakan negosiasi yang berlangsung sejauh ini tidak menunjukkan perkembangan. Di tengah situasi tersebut, ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kuba disebut terus membayangi.
Pada Kamis lalu, Direktur CIA John Ratcliffe mengunjungi Kuba dan bertemu dengan pejabat setempat. CIA menyatakan peluang negosiasi “tidak akan terbuka tanpa batas waktu” dan Kuba “tidak boleh berilusi bahwa presiden tidak akan menegakkan garis merah”.
Torres Rivera kembali menegaskan bahwa kedaulatan, kemerdekaan, dan hak menentukan nasib sendiri Kuba tidak dapat dinegosiasikan. Ia juga menolak anggapan bahwa Kuba menjadi ancaman bagi Amerika Serikat.
“Kami adalah pulau kecil yang hanya ingin dibiarkan menentukan masa depan kami dengan cara yang diinginkan rakyat Kuba,” kata dia.
Krisis Energi Picu Protes di Havana
Pernyataan pemerintah Kuba muncul ketika negara itu menghadapi krisis energi yang semakin memburuk. Menteri Energi Kuba pada Kamis lalu mengumumkan negara itu telah sepenuhnya kehabisan pasokan bahan bakar di tengah blokade Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memicu pemadaman listrik berkepanjangan dan protes di jalan-jalan Havana setelah warga menghadapi listrik padam selama berminggu-minggu.
Torres Rivera mengatakan kemarahan warga dapat dipahami. “Ketika mereka harus mengalami pemadaman listrik selama 20 jam, mereka memiliki keluhan dan mereka menyampaikannya,” kata dia.
Meski demikian, ia memperingatkan agar Amerika Serikat tidak salah membaca situasi tersebut sebagai tanda melemahnya ketahanan rakyat Kuba. Menurut dia, rakyat Kuba tetap akan mempertahankan negaranya jika menghadapi agresi militer dari Amerika Serikat.
Krisis energi Kuba semakin dalam setelah Amerika Serikat menculik Nicolas Maduro dari Venezuela pada Januari lalu. Venezuela selama ini menjadi salah satu pemasok utama bahan bakar bagi Kuba. Amerika Serikat juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485282/original/038819000_1769501489-pikojerico-175__1_.jpg.jpeg)

