Iran Siap Perang Lagi jika Perundingan dengan AS Gagal

3 hours ago 1

MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap kembali menghadapi konflik militer langsung dengan Amerika Serikat apabila perundingan kedua negara tidak menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima Teheran.

Menurut laporan Al Jazeera, pernyataan itu disampaikan Araghchi di tengah serangkaian pesan resmi pemerintah Iran yang ditujukan kepada publik domestik dan internasional. Selain menegaskan kesiapan militernya, Iran juga memperingatkan bahwa konflik dengan Teheran akan menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi masyarakat Amerika.

Iran Soroti Biaya Perang bagi Amerika

Dalam unggahan di media sosial X pada Jumat, 15 Mei 2026, Araghchi mengatakan warga Amerika akan menanggung biaya yang semakin besar apabila Washington tetap mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.

“Warga Amerika diberi tahu bahwa mereka harus menanggung biaya perang pilihan terhadap Iran yang terus melonjak,” tulis Araghchi.

Ia meminta masyarakat Amerika untuk tidak hanya memperhatikan kenaikan harga bahan bakar dan gejolak pasar saham. “Kesulitan yang sesungguhnya dimulai ketika utang Amerika Serikat dan suku bunga kredit perumahan mulai naik,” kata Araghchi.

Ia juga menambahkan bahwa tunggakan kredit kendaraan di Amerika Serikat telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun.

Menurut laporan TRT World, Araghchi menilai inflasi di Amerika Serikat akan terus meningkat selama ancaman perang terhadap Iran masih berlangsung. Kondisi itu, kata dia, dapat mendorong kenaikan biaya pinjaman dan meningkatkan risiko resesi.

Dampak Konflik terhadap Selat Hormuz

Araghchi juga menyoroti dampak konflik terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, gangguan di kawasan tersebut telah menyebabkan lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut menyoroti biaya ekonomi perang bagi Amerika Serikat. Menurut Al Jazeera, Ghalibaf, yang memimpin putaran pertama perundingan dengan Amerika Serikat pada April lalu, menyampaikan sindiran kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melalui X.

“Jadi, Anda membiayai Pete Hegseth, mantan pembawa acara televisi yang gagal, dengan tingkat biaya yang belum pernah terjadi sejak 2007, agar dia bisa berperan sebagai Menteri Perang di halaman belakang kami di Hormuz?” tulis Ghalibaf.

Ia menambahkan bahwa yang lebih gila dari utang Amerika Serikat sebesar US$ 39 triliun adalah membayar premi seperti sebelum krisis keuangan global. "Dan yang akan didapat hanyalah krisis keuangan global yang baru," ungkapnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |