Fenomena Jobless Boom: Ekonomi Tumbuh Pesat, Lapangan Kerja Menyusut

5 hours ago 5
 Ekonomi Tumbuh Pesat, Lapangan Kerja Menyusut Ilustrasi.(Magnific)

CEO Stripe, Patrick Collison, baru-baru ini melakukan jajak pendapat terhadap 1,5 juta pengikutnya di platform X mengenai prospek ekonomi masa depan. Hasilnya cukup mengejutkan: dari sekitar 13.000 responden, rata-rata mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berlipat ganda menjadi 4,3% dalam lima tahun ke depan. Namun di sisi lain, penyerapan tenaga kerja diprediksi anjlok sekitar 8%.

Fenomena ini sering disebut sebagai skenario AI-optimist. Dalam pandangan ini, kecerdasan buatan (AI) diyakini mampu meningkatkan output ekonomi secara masif sekaligus membuat puluhan juta pekerja menjadi redundan atau tidak lagi dibutuhkan. Meski prediksi penurunan tajam lapangan kerja saat ekonomi meroket jarang terjadi dalam sejarah, arah tren saat ini menunjukkan bahwa fenomena jobless boom bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas yang mulai terasa.

Kontradiksi GDP dan Pasar Saham

Secara administratif, angka pertumbuhan ekonomi (GDP) Amerika Serikat tidak terlihat terlalu istimewa dengan rata-rata pertumbuhan riil 2,1% selama setahun terakhir. Namun, pasar saham menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Indeks saham melonjak 13% tahun ini, menembus rekor meskipun dihantam isu tarif, perang, dan kenaikan harga minyak.

Ada dua penjelasan utama atas diskoneksi ini. Pertama, kemungkinan ada gelembung (bubble). Kedua, pasar saham sedang memprediksi masa depan berupa pertumbuhan akan terakselerasi secara eksponensial. Menariknya, data FactSet menunjukkan bahwa laba perusahaan tumbuh lebih cepat daripada harga saham itu sendiri. Jika mengecualikan Amazon dan Alphabet, laba perusahaan pada kuartal kedua melonjak hingga 32%.

AI bukan Satu-satunya Pendorong

Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh permintaan infrastruktur AI, seperti pusat data dan cip komputer. Namun, Bank of America mencatat bahwa tren ini mulai meluas ke sektor nonteknologi.

Pertumbuhan laba median perusahaan S&P 500 meningkat menjadi 13% dari sebelumnya 8% pada dua tahun lalu. Sektor perbankan dan perusahaan kecil yang sensitif terhadap siklus bisnis juga mulai mencatatkan kenaikan signifikan.

Deutsche Bank mengungkapkan bahwa istilah berbasis luas (broad-based) semakin sering muncul dalam laporan pendapatan perusahaan. Ini menandakan bahwa permintaan yang solid dan efisiensi operasional sedang terjadi di berbagai lini industri, bukan hanya di sektor teknologi tinggi.

Sisi Gelap: Lesunya Penyerapan Tenaga Kerja

Di balik rekor laba tersebut, terdapat anomali pada sektor ketenagakerjaan. Data menunjukkan bahwa total jumlah pekerja dalam penggajian (payrolls) menyusut pada Juli lalu, menandai penurunan kelima kali dalam 12 bulan terakhir. Pertumbuhan pekerja di sektor swasta hanya rata-rata 50.000 per bulan selama setahun terakhir, tren yang biasanya hanya terjadi saat masa resesi.

Mengapa angka pengangguran tetap stabil di kisaran 4%? Para ahli menilai hal ini disebabkan oleh faktor demografi:

  • Menyusutnya angkatan kerja karena generasi baby boomers yang mulai pensiun.
  • Menurunnya arus imigrasi yang membatasi pasokan tenaga kerja baru.

Meskipun angka pengangguran rendah, permintaan akan tenaga kerja tetap lesu. Data dari Indeed menunjukkan lowongan kerja berada pada titik terendah pascapandemi. Selain itu, pertumbuhan upah tahunan hanya sebesar 3,2%, angka terendah sejak sebelum pandemi, yang mengindikasikan bahwa pemberi kerja tidak lagi agresif memperebutkan talenta.

Keberlanjutan Tren

Banyak faktor yang bisa mengganggu skenario jobless boom ini. Permintaan konsumen yang tetap kuat sejauh ini didorong oleh penurunan tingkat tabungan rumah tangga, bukan kenaikan upah. Selain itu, investasi swasta sangat bergantung pada utang ratusan miliar dolar untuk membiayai pusat data AI. Kedua hal ini tidak bisa berlangsung selamanya.

Namun, untuk saat ini, momentum tersebut masih terus berjalan. Jika AI mampu mewujudkan sebagian kecil saja dari apa yang diharapkan para optimis, maka struktur ekonomi global mungkin akan benar-benar berubah menjadi sistem yang menghasilkan kekayaan melimpah dengan keterlibatan manusia yang semakin minim. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |