POS Pengamatan Gunung Semeru melaporkan terjadinya serangkaian erupsi pada Jumat pagi, 3 Juli 2026. Tinggi kolom letusannya teramati hingga lebih kurang 1.300 meter atau 1,3 kilometer di atas puncak.
Erupsi terakhir hingga laporan ini ditulis terjadi pada pukul 10.18 WIB dengan ketinggian kolom 1.000 meter di atas puncak. Erupsi sebelumnya terjadi pada pukul 09.48 WIB dengan ketinggian 1.300 meter di atas puncak. Petugas Pos PGA Semeru di Lumajang, Liswanto dalam laporannya pagi ini mengungkapkan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah selatan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sementara itu, laporan kegempaan enam jam terakhir sejak Jumat dini hari hingga pukul 06.00 WIB pagi ini menyebutkan ada 11 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 22 mm, dan lama gempa 106-145 detik. Kemudian ada 5 kali gempa guguran dengan amplitudo 1-2 mm dan lama gempa 36-102 detik.
Tercatat juga 5 kali gempa embusan dengan amplitudo 4-8 mm, dan lama gempa 40-73 detik. Selain itu juga ada 4 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 4-20 mm, S-P 15-22 detik dan lama gempa 35-71 detik. "Tingkat aktivitas Gunung Api Semeru Level III (Siaga)," ujar Liswanto dalam laporannya Jumat.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Jumat lalu, 19 Juni 2026, terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 4.500 meter dari puncak ke arah tenggara. Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo saat itu menyebutkan aktivitas Semeru masih tinggi.
Hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan bahwa selama periode 1–18 Juni 2026 teramati tiga kali kejadian awan panas ke arah tenggara. Aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan dan tremor harmonik.
"Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya supply dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan," ujar Lana.
Ia menambahkan, parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) berfluktuasi di sekitar nol sejak pertengahan Februari 2026. Hal ini menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi. "Akan tetapi masih sangat rentan terhadap peningkatan tekanan," ujarnya.
Data pemantauan deformasi menunjukkan pola yang relatif stabil, mengindikasikan tidak adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh gunung api dan terjadi perpindahan tekanan secara konsisten dari dalam tubuh gunung api ke permukaan bersamaan dengan keluarnya material saat terjadi erupsi dan hembusan.
Pada status Siaga ini, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi, antara lain tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)