Tokyo (ANTARA) -
Pulau Minamitori, pulau paling timur Jepang yang tengah dipertimbangkan sebagai lokasi permanen pembuangan limbah radioaktif tingkat tinggi, menghadapi kekhawatiran baru terkait kelestarian lingkungan wilayah tersebut.
Sebuah lembaga penelitian swasta memperingatkan bahwa survei lapangan dan pembangunan yang menjadi bagian dari proses penentuan lokasi berpotensi, mengurangi nilai konservasi pulau yang selama ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang unik.
Survei awal mengenai kelayakan Pulau Minamitori sebagai lokasi pembuangan limbah nuklir dimulai bulan lalu. Tahap tersebut merupakan bagian pertama dari proses seleksi tiga tahap yang diperkirakan berlangsung selama 20 tahun, sebelum lokasi akhir pembuangan limbah radioaktif tingkat tinggi ditetapkan.
Organisasi Pengelola Limbah Nuklir Jepang yang mengawasi proyek tersebut menyatakan bahwa survei dilakukan berdasarkan sumber-sumber geologi yang telah dipublikasikan dan berfokus pada kajian lapisan batuan serta sumber daya mineral. Organisasi itu juga menegaskan bahwa “ekosistem tidak termasuk dalam item evaluasi.”
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran Institute of Boninology, lembaga penelitian yang berbasis di Desa Ogasawara, wilayah administratif Tokyo. Sejak pemerintah pusat mengusulkan survei awal untuk Pulau Minamitori pada Maret lalu, lembaga tersebut secara independen mengumpulkan dan mempublikasikan informasi mengenai lingkungan alam pulau tersebut.
Hingga kini, Institute of Boninology telah menghimpun lebih dari 120 makalah akademik yang mendokumentasikan berbagai spesies ikan, tumbuhan, dan satwa liar langka yang hidup di pulau tersebut. Kumpulan penelitian itu menunjukkan nilai konservasi Pulau Minamitori yang dinilai sangat tinggi.
Didirikan di Pulau Chichijima pada tahun 2000 untuk membantu melindungi ekosistem seluruh Kepulauan Ogasawara di Samudra Pasifik, lembaga tersebut selama ini aktif melakukan penelitian satwa liar dan kegiatan konservasi lingkungan.
Wakil Direktur Institute of Boninology, Hajime Suzuki, menilai data yang tersedia saat ini sudah cukup untuk menunjukkan pentingnya perlindungan kawasan tersebut.
“Pengetahuan yang kami miliki saat ini saja sudah cukup untuk menunjukkan nilai konservasi pulau tersebut. Ekosistemnya harus dipelajari secara menyeluruh sebelum akses manusia ke pulau itu meningkat,” kata Suzuki.
Sejumlah temuan ilmiah memperkuat pandangan tersebut. Salah satunya adalah keberadaan ikan bidadari langka yang ditemukan di sekitar Pulau Minamitori pada tahun 1987. Ikan tersebut memiliki pola bintik-bintik yang berubah seiring pertumbuhan dan mampu mengalami perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan. Perairan di sekitar pulau diyakini menjadi salah satu habitat utamanya.
Di bagian tengah pulau juga tumbuh Togemiudonoki atau grand devil’s-claws, pohon berbunga dari keluarga Bougainvillea yang umumnya ditemukan di Australia dan kawasan Pasifik Selatan. Spesies tersebut tidak ditemukan di wilayah lain di Jepang.
Selain itu, survei ornitologi pada 2022 mengonfirmasi keberadaan induk dan anak burung dara laut putih (white tern), yang menjadi catatan pertama perkembangbiakan spesies tersebut di Jepang dalam 120 tahun terakhir.
Institute of Boninology mengingatkan bahwa risiko terhadap lingkungan tidak hanya muncul pada tahap survei awal. Menurut lembaga tersebut, tahap investigasi pendahuluan akan melibatkan kegiatan pengeboran di lokasi, sedangkan investigasi rinci berpotensi memicu pembangunan fasilitas bawah tanah yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan secara signifikan.
Atas dasar itu, Suzuki mendesak agar penelitian lapangan yang dipimpin oleh masyarakat setempat segera dilakukan untuk memastikan seluruh nilai ekologis Pulau Minamitori terdokumentasi dan dipertimbangkan sebelum proses pengembangan lebih lanjut berlangsung.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: Air limbah terkontaminasi nuklir dari Fukushima lampaui 130.000 ton
Baca juga: Jepang mulai putaran ke-17 pembuangan air limbah terkontaminasi nuklir
Baca juga: Jepang kembangkan baterai uranium dari limbah radioaktif
Penerjemah: Primayanti
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)











