Ilustrasi.(Magnific)
MILITER Iran secara resmi mengumumkan sayembara berhadiah bagi siapa pun yang berhasil membunuh atau menangkap tentara Amerika Serikat (AS). Pengumuman ini menandai eskalasi ketegangan terbaru di tengah konflik yang masih berlangsung antara Teheran dan Washington.
Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menyatakan pada Minggu (16/8) bahwa pihaknya menawarkan hadiah setara dengan US$30.000 atau sekitar Rp535 juta (kurs Rp17.827) untuk setiap personel militer AS yang dilumpuhkan. Menariknya, Hatami menegaskan bahwa nilai hadiah tersebut akan dilipatgandakan jika aksi tersebut dilakukan oleh seorang perempuan.
Menurut laporan kantor berita negara IRNA, Hatami menyebut rencana ini disusun setelah ada banyak permintaan dari masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya perlawanan terhadap kehadiran militer AS.
"Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer penjajah Amerika akan menerima hadiah setara dengan US$30.000 atau 5 miliar toman dari Angkatan Darat Republik Islam Iran," ujar Hatami. Ia juga menambahkan, "Perempuan Iran yang berani melakukan tindakan tersebut akan menerima hadiah dua kali lipat."
Konteks Konflik dan Operasi Militer
Meskipun pengumuman itu dikeluarkan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai pengerahan pasukan darat AS secara resmi di dalam wilayah Iran selama perang Timur Tengah berlangsung. Satu-satunya pengecualian ialah misi penyelamatan pada bulan April lalu untuk mengevakuasi seorang penerbang Amerika yang jatuh.
Hatami tidak memberikan rincian spesifik mengenai lokasi atau waktu di mana penangkapan atau pembunuhan tentara AS tersebut diharapkan terjadi. Namun, ia kembali menegaskan tuntutan Iran agar AS segera meninggalkan Timur Tengah.
"Mereka tidak lagi memiliki izin untuk memasuki Teluk Persia, Teluk Oman, atau Selat Hormuz," tegasnya.
Catatan Perang Teheran-Washington:
- Awal Konflik: Dimulai pada 28 Februari saat AS dan Israel menyerang Iran.
- Misi Penyelamatan F-15: AS mengerahkan 200 tentara dan 170 pesawat untuk menyelamatkan petugas sistem senjata jet F-15 yang jatuh.
- Kerugian Material: Dalam misi tersebut, Iran merusak pesawat A-10 milik AS, sementara AS terpaksa menghancurkan pesawat C-130 miliknya sendiri agar tidak jatuh ke tangan musuh.
- Korban Jiwa: Sebanyak 17 personel militer AS tewas sejak awal perang, dengan kematian terbaru tercatat pada Juli di luar wilayah Iran (Yordania dan Irak).
Diplomasi yang Buntu
Perang sempat mereda melalui gencatan senjata pada April setelah 40 hari pertempuran sengit. Namun, kerangka kerja negosiasi damai yang disusun pada bulan Juni berakhir dengan kegagalan.
Sejak saat itu, Iran dan Amerika Serikat terus terlibat dalam baku tembak sporadis, terutama di wilayah Iran selatan dan sekitar Selat Hormuz. Kontak tidak langsung melalui mediator masih terus berjalan, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda terobosan diplomatik.
Iran sendiri menetapkan daftar tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk pembayaran ganti rugi perang oleh pihak Amerika Serikat. (AFP/I-2)


















































