HALO, pembaca nawala Cek Fakta Tempo!
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot 10,87 persen dalam setahun terakhir. Pada awal Juni 2026, mata uang Garuda mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah hingga menembus di atas Rp 18 ribu per dolar. Meski sempat menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga, sejumlah ekonom mengingatkan pergerakan rupiah masih rentan bergejolak.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pelemahan rupiah langsung memukul perekonomian warga, meski transaksi harian mereka tak menggunakan dolar. Anjloknya nilai tukar mendongkrak harga pangan dan barang karena sebagian besar bahan baku impor harus dibayar dengan dolar. Beban masyarakat dan pelaku usaha kian berat menyusul kenaikan harga BBM non-subsidi pada Mei 2026.
Di tengah situasi pelik ini, Tempo memantau sejumlah pemengaruh dan kreator konten yang menyebarkan narasi menyesatkan. Potongan video mereka beredar luas di TikTok, Instagram, X, dan YouTube dengan klaim keliru bahwa melemahnya rupiah justru menguntungkan Indonesia. Tim Cek Fakta Tempo telah menerbitkan lima artikel verifikasi untuk menyelisik klaim-klaim tersebut.
Sederet klaim seolah menghibur itu menyebutkan bahwa melemahnya rupiah bakal memacu inovasi domestik agar lepas dari ketergantungan impor. Klaim lain menyatakan anjloknya rupiah membuat harga produk lokal lebih murah sehingga ekspor melonjak dan ekonomi menguat. Bahkan, muncul tudingan Bank Indonesia sengaja memperlemah mata uang demi mendongkrak daya saing produk lokal di pasar global.
Narasi para kreator konten ini menciptakan ilusi seolah-olah ekonomi Indonesia baik-baik saja. Padahal, para pakar yang dihubungi Tempo justru membunyikan alarm tanda bahaya atas dampak berantai akibat keoknya rupiah.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), I Wayan Nuka Lantara, menyatakan pelemahan rupiah membuat ongkos impor membengkak, harga barang melonjak, inflasi mengerek naik, dan daya beli masyarakat amblas. Kondisi ini juga memperberat beban pemerintah karena nilai utang luar negeri dalam dolar ikut membubung.
Wayan mengingatkan Indonesia tak bisa bertumpu pada pelemahan mata uang jika ingin menjadi negara maju. Kemajuan sebuah negara ditentukan oleh produktivitas, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia. Terlebih, ketergantungan Indonesia terhadap impor masih jumbo, kontras dengan struktur ekonomi Cina atau Amerika Serikat.
Tren klaim berikutnya adalah mengkambinghitamkan Singapura sebagai penyebab melemahnya rupiah karena penarikan dana investor ke Negeri Singa itu. Namun, pengamat ekonomi dan investasi dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mematahkan tuduhan itu. Menurut dia, eksodus modal terjadi karena faktor objektif dan rasional pasar, tak ada hubungannya dengan intervensi pemerintah Singapura.
Ekonom UGM, Denni Puspa Purbasari mengingatkan, ambruknya rupiah dipicu multi-faktor. Mulai dari konflik geopolitik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang mendongkrak harga minyak, hingga tingginya defisit transaksi berjalan. Faktor lain mencakup sentimen atau proyeksi pasar yang dipengaruhi iklim investasi dan kebijakan makro.
Terakhir, Tim Cek Fakta Tempo juga menemukan konten yang mengklaim pelemahan rupiah adalah strategi pemerintah untuk meninggalkan dolar Amerika. Faktanya, bank sentral masih menggunakan mata uang tersebut untuk transaksi global, cadangan devisa, dan neraca perdagangan. Bank Indonesia hanya membatasi transaksi valuta asing, bukan menyetop total penggunaan dolar.
Nah, apakah Anda juga menerima konten-konten dengan klaim serupa?
Ada Apa Pekan Ini?
Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial memiliki beragam isu, mulai dari isu internasional, politik,hukum, hingga kesehatan. Buka tautannya ke kanal Cek Fakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:
- Benarkah Lampu Lalu Lintas Meleleh karena Panas Ekstrem di Eropa?
- Benarkah Pemadaman Listrik Bertujuan Mengembangkan Bakteri Vaksin?
- Benarkah Roy Suryo cs Dibebaskan dalam Kasus Ijazah Jokowi?
- Benarkah LGBTQ adalah Agenda Depopulasi Elit Global?
Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi Tipline kami.
Ikuti kami di media sosial:





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)












:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)