Komandan AS Beri Opsi Trump Serang Iran 14 Hari

3 hours ago 1
Komandan AS Beri Opsi Trump Serang Iran 14 Hari Dan Caine dan Pete Hegseth.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah militer drastis menyusul serangan rudal kejutan Iran pada Selasa (28/7). Di atas pesawat Air Force One di Delaware, pekan lalu, Trump mengadakan pertemuan mendadak dengan jajaran penasihat perang tertingginya setelah menyaksikan kepulangan jenazah empat tentara AS yang tewas dalam konflik tersebut.

Dalam pertemuan di atas pesawat tersebut, hadir Jenderal Dan Caine (Ketua Kepala Staf Gabungan), Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Laksamana Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS (Centcom). Cooper, yang selama ini memimpin operasi dari markasnya di Tampa, Florida, kini muncul ke permukaan dengan proposal serangan udara intensif selama 10 hingga 14 hari.

Opsi Serangan Go Big Laksamana Cooper

Laksamana Cooper menyiapkan opsi kampanye udara yang menghukum untuk melumpuhkan kemampuan rudal Iran secara signifikan. Strategi go big ini bertujuan memecah kebuntuan dan melampaui serangan balasan terbatas yang selama ini dinilai gagal menjauhkan ancaman Teheran di Selat Hormuz.

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Cooper berargumen bahwa serangan besar-besaran akan mengurangi ketergantungan AS pada amunisi pertahanan udara karena kemampuan Iran untuk membalas akan sangat berkurang. Namun, opsi ini muncul di tengah peringatan bahwa persediaan pencegat pertahanan udara AS mulai menipis.

Perbedaan Pandangan di Internal Pentagon

Di sisi lain, Jenderal Dan Caine bersikap lebih berhati-hati. Ia kerap memperingatkan Gedung Putih mengenai konsekuensi tingkat kedua dan ketiga dari opsi militer tersebut. Caine menyoroti rendahnya inventaris pencegat pertahanan udara yang juga dibutuhkan untuk melindungi pangkalan AS dan sekutu di wilayah lain, termasuk menghadapi ancaman dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia.

Meskipun ada perbedaan pendekatan, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa kepemimpinan militer tetap bersatu. "Menteri Hegseth, Komandan Centcom Laksamana Cooper, dan Ketua Caine sepenuhnya selaras dalam misi dan strategi. Departemen Perang siap melaksanakan arahan Presiden kapan saja," tegasnya.

Keterlibatan Israel dan Tekanan Politik

Dinamika ini juga melibatkan sekutu utama AS. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan bertemu dengan Menhan Pete Hegseth pada Rabu (29/7), sehari setelah bertemu Trump. Pejabat AS mengindikasikan bahwa pasukan Israel dapat dilibatkan jika Trump memutuskan untuk kembali ke operasi tempur besar.

Trump sendiri memberikan sinyal keras melalui wawancara dengan Fox News. "Kami akan memukul mereka dengan keras," ujar Trump, meski ia tetap membuka pintu bagi negosiasi diplomatik.

Tantangan Efektivitas Serangan Udara

Sejarah mencatat bahwa melumpuhkan kekuatan Iran tidaklah mudah. Meskipun kampanye udara gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu diklaim menghancurkan sebagian besar program rudal Iran, intelijen AS menilai Iran masih memiliki sekitar 21% hingga 22% dari total rudal mereka pada awal Juni.

Para kritikus di Capitol Hill memperingatkan bahwa kampanye udara baru berisiko menyeret pemerintahan Trump lebih dalam ke dalam perang yang berkepanjangan. Skeptis juga menunjuk pada kemampuan Iran untuk menyembunyikan peluncur rudal di kompleks bawah tanah dan menggunakan jalur penerbangan yang berbeda untuk menghindari pertahanan AS.

Kini, keputusan berada di tangan Trump: apakah akan menyetujui serangan udara intensif selama dua minggu untuk melumpuhkan Iran atau memilih serangan terbatas demi mengejar jalur diplomasi. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |