CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak orang bertanya-tanya mengapa korban kekerasan dalam hubungan memilih bertahan, bahkan setelah mengalami perlakuan yang menyakitkan berulang kali. Padahal, dari luar, keputusan untuk mengakhiri toxic relationship tampak seperti pilihan yang mudah.
Menurut psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog, kondisi tersebut tidak sesederhana yang terlihat. Korban kerap terjebak dalam pola yang dikenal sebagai siklus kekerasan, yaitu rangkaian fase yang terus berulang hingga membuat mereka sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat.
"Korban berada dalam kondisi yang sangat terpuruk karena terjebak dalam siklus kekerasan yang terus berputar," ujar Gisella.
Berawal dari Fase yang Terlihat Romantis
Gisella menjelaskan bahwa hubungan yang mengandung kekerasan tidak selalu diawali dengan perilaku kasar. Justru, banyak hubungan semacam ini dimulai dengan fase yang tampak romantis seperti hubungan pada umumnya.
Di tahap awal, pasangan mungkin menunjukkan perhatian yang sangat besar, sikap protektif, atau intensitas pendekatan yang terlihat berlebihan. Bagi sebagian orang, perilaku tersebut kerap dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Padahal, menurut Gisella, pola tersebut bisa menjadi salah satu tanda awal hubungan yang tidak sehat."Pada awalnya hubungan terlihat baik dan romantis. Namun ketika mulai muncul konflik, biasanya fase berikutnya adalah munculnya kekerasan," jelasnya.
Kekerasan Tidak Selalu Berupa Kekerasan Fisik
Bentuk kekerasan dalam relasi ternyata sangat beragam. Selain kekerasan fisik, korban juga dapat mengalami kekerasan verbal, kekerasan seksual, manipulasi, hingga tekanan psikologis.
Gisella mengatakan intimidasi emosional menjadi salah satu bentuk kekerasan yang sering kali tidak disadari karena tidak meninggalkan luka yang terlihat secara kasatmata.
Korban dapat mengalami penghinaan, ancaman, pelecehan seksual, pemerkosaan, hingga manipulasi yang membuat mereka merasa bersalah atau kehilangan kepercayaan diri.
Setelah Melukai, Pelaku Biasanya Meminta Maaf
Yang membuat korban sulit meninggalkan hubungan adalah adanya fase penyesalan dari pelaku. Setelah melakukan kekerasan, pelaku umumnya meminta maaf, mengaku khilaf, berjanji berubah, bahkan kembali bersikap romantis seperti di awal hubungan.
Siklus inilah yang membuat korban kembali berharap bahwa pasangan benar-benar akan berubah. Sayangnya, harapan tersebut sering kali hanya sementara karena hubungan kembali memasuki fase konflik dan kekerasan. "Korban akhirnya merasa masih ada harapan, padahal mereka juga hidup dalam ketakutan bahwa kekerasan itu akan terulang lagi," ujar Gisella.
Siklus Kekerasan Lama-Kelamaan Semakin Parah
Menurut Gisella, apabila hubungan terus berlangsung, pola kekerasan biasanya akan semakin meningkat. Fase romantis menjadi semakin singkat, permintaan maaf semakin berkurang, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah kekerasan yang terjadi secara berulang. Situasi ini membuat korban semakin kehilangan kekuatan untuk keluar dari hubungan tersebut.
Mengapa Korban Sulit Pergi? Gisella menegaskan bahwa penyebab utama korban bertahan bukan karena mereka menginginkan kekerasan, melainkan karena posisi mereka sudah dilemahkan, baik secara psikologis maupun struktural.
Korban yang terlalu lama berada dalam hubungan penuh kekerasan akan mempelajari bahwa setiap upaya melawan justru dapat memicu respons yang lebih agresif dari pelaku. Akibatnya, mereka memilih bertahan karena merasa itulah pilihan yang paling aman.
"Semakin korban mencoba melawan atau membela diri, pelaku sering kali menjadi semakin agresif. Korban memahami pola ini karena sudah mengalaminya berulang kali," jelasnya.
Dalam banyak kasus, pelaku juga menggunakan ancaman terhadap orang-orang yang dicintai korban atau hal-hal yang dianggap berharga sehingga korban semakin takut meninggalkan hubungan.
Kontrol Finansial dan Isolasi Membuat Korban Makin Terjebak
Selain kekerasan emosional, pelaku kerap menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan kontrol terhadap korban. Salah satunya adalah mengendalikan kondisi finansial pasangan sehingga korban tidak memiliki sumber daya untuk hidup mandiri. Tak hanya itu, pelaku juga sering mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya.
Korban dapat dilarang bertemu teman, dijauhkan dari keluarga, hingga dibatasi aksesnya terhadap bantuan atau layanan publik. Akibatnya, korban merasa hanya memiliki pelaku sebagai satu-satunya tempat bergantung.
Manipulasi psikologis juga menjadi senjata yang sering digunakan. Pelaku membuat korban percaya bahwa dirinya tidak berharga, bahkan meyakinkan korban bahwa kekerasan terjadi akibat kesalahan korban sendiri.
"Pelaku menggunakan relasi yang sangat manipulatif sehingga korban merasa dirinya memang pantas diperlakukan seperti itu dan akhirnya menjadi tidak berdaya," tutur Gisella.
Korban Membutuhkan Dukungan, Bukan Penghakiman
Gisella menekankan bahwa keluar dari hubungan penuh kekerasan bukanlah proses yang mudah. Siklus kekerasan, ancaman, ketergantungan ekonomi, hingga manipulasi psikologis membuat korban kehilangan rasa aman dan kepercayaan diri.
Karena itu, alih-alih mempertanyakan mengapa korban tidak segera pergi, masyarakat perlu memberikan dukungan agar mereka memiliki ruang yang aman untuk mencari pertolongan dan memulai proses pemulihan.
Pilihan Editor: Prilly Latuconsina Ungkap Penyebab Toxic Relationship dan Cara Keluarnya
ANTARA | ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)












:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)