Presiden Tiongkok Xi Jinping.(Dok. BBC)
PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping tiba di New Delhi, India, pada Sabtu (12/9), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026. Pertemuan puncak blok 11 negara ini berlangsung di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perang di Ukraina, serta tantangan keamanan energi global.
Kunjungan ini memiliki nilai simbolis yang kuat karena menjadi kehadiran pertama Xi di India sejak 2019. Momen ini menandai langkah signifikan dalam upaya normalisasi hubungan bilateral setelah bentrokan militer di perbatasan Tibet pada 2020 yang sempat membekukan komunikasi tingkat tinggi kedua negara.
Pemerintah Tiongkok menyatakan kesiapannya untuk membuka lembaran baru dengan India. "Beijing siap bekerja sama dengan India dengan memperkuat komunikasi, meningkatkan kerja sama, dan mengelola perbedaan dengan baik," demikian pernyataan resmi pemerintah Tiongkok sebagaimana dikutip dari AFP.
Selain agenda utama KTT, Xi Jinping dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral khusus dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Pengamat dari University of Melbourne, Pradeep Taneja, menilai pertemuan ini merupakan upaya kedua negara mencari solusi konkret atas sengketa wilayah.
"Mereka mencari hasil cepat dan substansial terkait isu perbatasan. Anda tidak bisa terus menumpuk pasukan di perbatasan, tetapi di saat yang sama mengatakan harus melanjutkan hubungan ekonomi," ujar Taneja.
KTT BRICS kali ini juga dihadiri oleh pemimpin negara anggota lainnya, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam diskusinya dengan PM Modi, Pezeshkian menekankan situasi kritis yang dihadapi Iran akibat agresi militer Amerika Serikat dan Israel.
Namun, perluasan keanggotaan BRICS menjadi 11 negara juga membawa tantangan internal. Harsh V. Pant dari Observer Research Foundation India mencatat bahwa perbedaan posisi politik antaranggota terkait konflik di Teluk dapat menguji soliditas blok ini.
"Apa yang tahun lalu dilihat sebagai pencapaian, yaitu perluasan BRICS, hari ini tampak menjadi hambatan besar bagi BRICS dalam menyatukan suara," tutur Pant. KTT ini diharapkan menghasilkan kesepakatan strategis di tengah gejolak perdagangan dan keamanan dunia. (AFP/Z-10)















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9300188/original/036780100_1784309060-16__1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8226516/original/031332300_1781086646-timnas_1.jpg)