Maria Kristin Yulianti(MI/Dhika Kusuma Winata)
Mantan pebulu tangkis tunggal putri Indonesia Maria Kristin Yulianti berharap sektor tunggal putri mampu berbicara di Asian Games. Maria menilai wakil Indonesia bisa saja memiliki peluang asalkan mampu menjaga konsistensi dan ketangguhan mental.
Di Asian Games 2026 nanti, tunggal putri pada nomor perorangan akan mengandalkan Putri Kusuma Wardani dan Thalita Ramadhani Wiryawan. Untuk nomor beregu ada tambahan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan Mutiara Ayu Puspitasari.
Maria menilai Putri KW sebelumnya sudah menunjukkan perkembangan. Hasil yang diraih sempat memperlihatkan Putri mampu bersaing ketika berada dalam kondisi terbaik. Maria juga berharap Putri KW tidak hanya menjadi tumpuan untuk Asian Games tetapi juga membuka jalan bagi pemain-pemain muda tunggal putri lainnya.
"Sebenarnya kayak Putri KW kemarin sebenarnya juga sudah sempat naik, sudah sempat hasilnya lumayan. Cuma terkadang kita enggak pernah tahu yang dia alami seperti apa," kata Maria saat ditemui di sela Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Djarum Jati, Kudus, Sabtu (12/9).
"Harapannya untuk Putri KW dan teman-teman juniornya yang lain untuk punya tujuan di sana dan fokus saja. Jadi apa pun yang adandi luar, selama enggak terlalu mengganggu, abaikan saja," tambahnya.
Maria merupakan peraih medali perunggu Olimpiade 2028 Beijing dan dua kali emas SEA Games.
Menurutnya, tantangan bagi sektor tunggal putri Indonesia sekarang bukan hanya soal kemampuan teknis. Ketika memasuki level dunia, atlet harus memiliki ketahanan mental dan kemampuan mengelola berbagai persoalan yang dapat memengaruhi konsentrasi saat bertanding.
Maria melihat ada perubahan tuntutan ketika seorang pemain berpindah dari klub ke Pelatnas. Di klub, atlet masih banyak mendapat arahan dan pendampingan. Sementara di Pelatnas, pemain dituntut lebih mandiri dalam memahami kebutuhan serta menghadapi persoalan yang muncul.
"Kalau aku melihatnya dari atlet-atlet Djarum, mungkin ketika di klub kita masih dituntun, masih selalu dikasih tahu. Jadi ketika masuk Pelatnas, kita harus benar-benar mandiri. Paling enggak semuanya harus sudah kita ngerti," ujarnya.
"Kadang yang baru masuk Pelatnas itu belum siap banget harus seperti itu. Ketika ada tekanan atau masalah dari luar, langsung terganggu. Kalau sudah kena mentalnya, meskipun sedikit, tetap pasti terganggu juga," tutur Maria.
Karena itu, Maria menilai kematangan berpikir menjadi modal penting bagi pemain yang ingin bertahan di level elite. Atlet harus mengetahui apa yang ingin dicapai dan mampu memilah persoalan yang perlu diperhatikan dengan hal-hal yang sebaiknya dikesampingkan.
"Jadi paling enggak ketika masuk Pelatnas kita sudah siap apa yang terjadi di sana. Apa pun masalahnya, paling enggak kita tahu harus ngapain. Pikirannya juga harus sudah lebih dewasa," katanya.















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9300188/original/036780100_1784309060-16__1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8226516/original/031332300_1781086646-timnas_1.jpg)